FiladelfiaNews.com Ada satu pola yang sering terlihat dalam kehidupan banyak orang percaya.
Ketika hidup sedang sulit, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika usaha tidak berjalan baik, ketika sakit atau pergumulan menghimpit, manusia dengan mudah datang kepada Tuhan. Doa menjadi lebih sungguh-sungguh, hati menjadi lebih lembut, dan ketergantungan kepada Tuhan terasa begitu nyata.
Namun keadaan sering berubah ketika Tuhan mulai menjawab doa-doa itu.
Ketika kehidupan mulai membaik, ketika berkat datang, ketika kebutuhan tercukupi, dan hidup terasa lebih nyaman, perlahan-lahan manusia mulai merasa cukup kuat berjalan dengan kemampuannya sendiri. Tanpa disadari, doa mulai berkurang, rasa syukur mulai memudar, dan Tuhan yang dahulu begitu sering dicari dalam pergumulan perlahan-lahan mulai terlupakan.
Inilah salah satu bahaya terbesar dalam perjalanan iman manusia.
Bukan hanya penderitaan yang bisa menguji iman, tetapi juga kelimpahan dan kenyamanan hidup. Sebab sering kali justru ketika hidup terasa baik-baik saja, manusia mulai kehilangan kesadaran bahwa semua yang dimilikinya berasal dari Tuhan.
Kisah bangsa Israel dalam Alkitab menunjukkan bahwa hal ini bukanlah persoalan baru. Setelah perjalanan panjang yang penuh penderitaan di padang gurun, akhirnya mereka memasuki tanah Kanaan—tanah yang dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka.
Di sana mereka menikmati apa yang selama ini mereka nantikan: tanah yang subur, kehidupan yang lebih aman, dan ketenteraman hidup.
Alkitab mencatat:
“Demikianlah TUHAN memberikan kepada orang Israel seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang mereka.”
(Yosua 21:43)
Tuhan telah menepati janji-Nya. Tanah telah dibagikan kepada suku-suku Israel, termasuk suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye. Mereka telah menerima bagian warisan mereka sebagaimana yang dijanjikan Tuhan melalui Musa.
Namun di tengah situasi penuh berkat itu, Yosua memberikan sebuah peringatan yang sangat penting.
Ia mengingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan Tuhan.
Yosua berkata:
“Hanya, lakukanlah dengan sungguh-sungguh perintah dan hukum yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN itu kepadamu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan-Nya, berpegang pada perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”
(Yosua 22:5)
Pesan ini sangat jelas.
Berkat Tuhan tidak boleh membuat manusia lupa kepada Tuhan. Justru ketika hidup sedang diberkati, manusia harus semakin setia kepada-Nya.
Yosua memahami satu hal yang penting:
tantangan terbesar iman bukan hanya ketika kita menderita, tetapi juga ketika kita diberkati.
Kesuksesan sering kali membuat manusia merasa kuat dengan dirinya sendiri. Kelimpahan dapat membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Padahal semua yang kita miliki berasal dari Tuhan.
Ia yang memberikan kehidupan.
Ia yang memelihara kita setiap hari.
Bahkan berkat terbesar yang Tuhan berikan adalah keselamatan melalui pengorbanan Kristus.
Karena itu, dalam keadaan apa pun—baik dalam kekurangan maupun dalam kelimpahan—kita dipanggil untuk tetap setia kepada Tuhan.
Jangan hanya mencari Tuhan ketika sedang membutuhkan.
Tetapi tetaplah mengasihi Tuhan bahkan ketika hidup sedang nyaman.
Sebab iman yang sejati tidak hanya terlihat saat kita berada dalam kesulitan, tetapi juga ketika kita hidup dalam kelimpahan.
Hari ini mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita hanya datang kepada Tuhan ketika kita membutuhkan sesuatu?
Ataukah kita tetap setia mengasihi Tuhan, bahkan ketika hidup kita sedang baik-baik saja?
Sebab Tuhan yang setia kepada kita layak menerima kesetiaan kita sepanjang hidup.
Ev. Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas),S.H., S.Th., M.Pd.K







