Ketika Pena Menjadi Pelita: Panggilan Rohani Seorang Jurnalis di Tengah Dunia yang Gelap oleh Informasi

Spread the love

Bogor – Di zaman ketika informasi berlari lebih cepat daripada kebenaran, dunia sering kali dipenuhi oleh kabar yang membingungkan, berita yang setengah benar, bahkan narasi yang sengaja dibangun untuk menyesatkan. Di tengah riuhnya arus informasi itu, seorang jurnalis sesungguhnya tidak hanya memegang pena—ia memegang tanggung jawab moral dan spiritual.

Bagi sebagian orang, jurnalisme hanyalah profesi. Namun bagi mereka yang memahami panggilan nurani, jurnalisme adalah pelayanan. Ia adalah panggilan untuk menyuarakan kebenaran di tengah dunia yang sering kali lebih memilih kenyamanan daripada kejujuran.

Alkitab mengingatkan,

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”
(Matius 5:14)

Dalam terang firman itu, seorang jurnalis dipanggil untuk menjadi terang. Ketika kebohongan berusaha menutupi fakta, jurnalis menghadirkan kebenaran. Ketika ketidakadilan terjadi, jurnalis menyuarakan suara mereka yang tidak didengar.

Namun panggilan ini tidak selalu mudah.

Di era digital, setiap orang bisa menyebarkan informasi. Media sosial membuat berita menyebar dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua informasi lahir dari proses pencarian kebenaran. Banyak yang muncul dari kepentingan, emosi, bahkan manipulasi.

Di sinilah peran jurnalis diuji—bukan sekadar cepat menyampaikan berita, tetapi setia pada kebenaran.

Alkitab berkata,

“Sebab itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain.”
(Efesus 4:25)

Ayat ini bukan hanya nasihat rohani. Ia juga merupakan prinsip dasar dalam dunia jurnalistik. Seorang jurnalis yang menulis tanpa kebenaran tidak hanya merusak profesinya, tetapi juga melukai kepercayaan masyarakat.

Sayangnya, dunia pers juga menghadapi tantangan dari dalam. Fenomena wartawan abal-abal atau wartawan gadungan telah mencoreng wajah profesi yang mulia ini. Ada orang yang membawa identitas pers tetapi tidak membawa integritas.

Mereka datang bukan untuk mencari fakta, tetapi untuk mencari keuntungan. Mereka tidak menulis berita, tetapi menciptakan tekanan.

Padahal jurnalisme sejati tidak lahir dari kartu identitas. Ia lahir dari hati yang takut akan Tuhan dan komitmen terhadap kebenaran.

Alkitab berkata,

“Hendaklah kamu hidup sebagai anak-anak terang.”
(Efesus 5:8)

Seorang jurnalis yang hidup dalam terang tidak akan memutarbalikkan fakta. Ia tidak akan menjadikan berita sebagai alat kepentingan. Ia memahami bahwa setiap kata yang ia tulis memiliki dampak bagi kehidupan banyak orang.

Dalam banyak hal, jurnalis sebenarnya memainkan peran yang mirip dengan para nabi dalam Alkitab. Para nabi tidak selalu berbicara hal yang menyenangkan. Mereka sering menyampaikan kebenaran yang keras, tetapi justru itulah yang dibutuhkan oleh umat.

Begitu pula jurnalis.

Ketika ketidakadilan terjadi, jurnalis bersuara.
Ketika kebohongan menyebar, jurnalis menghadirkan fakta.
Ketika kebenaran ingin dibungkam, jurnalis menyalakan terang.

Namun setiap suara kebenaran selalu membawa risiko. Tidak jarang mereka yang menyuarakan kebenaran disalahpahami, bahkan dimusuhi.

Tetapi firman Tuhan menguatkan,

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.”
(Matius 5:10)

Karena itu, seorang jurnalis yang beriman memahami bahwa pekerjaannya bukan sekadar pekerjaan duniawi. Ia adalah panggilan untuk menjaga terang kebenaran tetap menyala di tengah dunia yang sering kali dipenuhi kegelapan informasi.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh berita, masyarakat membutuhkan suara yang jernih. Suara yang tidak dibeli oleh kekuasaan, tidak ditakuti oleh tekanan, dan tidak dikendalikan oleh kepentingan.

Di situlah jurnalis sejati berdiri.

Pena yang ia pegang bukan sekadar alat menulis. Pena itu bisa menjadi pelita—yang menerangi jalan bagi banyak orang untuk melihat kebenaran.

Sebab seperti yang tertulis dalam Mazmur,

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mazmur 119:105)

Jika seorang jurnalis menulis dengan hati yang jujur dan takut akan Tuhan, maka setiap berita yang ia tulis tidak hanya menjadi informasi—tetapi juga menjadi terang.

Dan di tengah dunia yang sering kali gelap oleh kebohongan, terang itu sangat dibutuhkan.


Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia
Pemimpin Redaksi Pelitanusantara.com
Rohaniawan Sinode GPIAI

About The Author

  • Related Posts

    Kebenaran yang Terkepung: Jurnalisme dalam Tekanan Kekuasaan, Pasar, dan Ketakutan

    Spread the love

    Spread the loveOleh: Kefas Hervin Devananda Bogor – Ada yang perlahan berubah di ruang redaksi—dan perubahan itu tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa. Bukan sekadar pergeseran gaya penulisan atau platform…

    IMAN ATAU TRANSAKSI?

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com Ketika Memberi Mulai Kehilangan Makna Tidak semua yang dibungkus bahasa rohani otomatis mencerminkan kebenaran rohani. Ada praktik yang terdengar benar, terlihat wajar, bahkan sering diulang dari mimbar—tetapi…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Filadelfia News

    Bukan Sekadar Menunjuk Jalan—Kristus Adalah Jalan Itu Sendiri

    Bukan Sekadar Menunjuk Jalan—Kristus Adalah Jalan Itu Sendiri

    BELAJAR MENGAKUI SALAH

    BELAJAR MENGAKUI SALAH

    Paradoks Teologi dan Mujizat

    Paradoks Teologi dan Mujizat

    TMMD 2026 Dimulai, Bekasi Dorong Pembangunan Kolaboratif Tepat Sasaran

    TMMD 2026 Dimulai, Bekasi Dorong Pembangunan Kolaboratif Tepat Sasaran

    Lonjakan Indeks Toleransi, Bekasi Didorong Jadi Model Harmoni Perkotaan

    Lonjakan Indeks Toleransi, Bekasi Didorong Jadi Model Harmoni Perkotaan

    Tuhan Tidak Terlambat—Kita yang Terburu Menyimpulkan

    Tuhan Tidak Terlambat—Kita yang Terburu Menyimpulkan