Refleksi tentang Kepemimpinan Rohani, Kesatuan Gereja, dan Hikmat Kearifan Nusantara
Oleh: Romo Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K.
Jurnalis, Penulis, dan Pemerhati Kehidupan Gereja serta Kebangsaan
“Gereja tidak hancur karena badai dari luar, tetapi sering terluka oleh retakan yang tumbuh dari dalam.”
Kalimat ini mungkin terdengar keras, tetapi sejarah gereja membuktikan bahwa banyak perpecahan tidak selalu dimulai oleh serangan dunia luar. Tidak sedikit konflik justru lahir dari dalam tubuh gereja sendiri, ketika manusia mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Kristus.
Di berbagai komunitas gereja, perpecahan sering kali dikaitkan dengan jemaat yang dianggap kurang dewasa secara rohani. Namun jika direnungkan lebih dalam, akar persoalannya sering kali jauh lebih kompleks. Terkadang sumber masalah bukan berada di bangku jemaat, melainkan di ruang-ruang kepemimpinan, ketika ego, ambisi, persaingan, dan kepentingan pribadi perlahan masuk ke dalam pelayanan yang seharusnya kudus.
Refleksi ini bukanlah upaya menghakimi para pendeta atau pemimpin gereja. Sebab tidak sedikit hamba Tuhan yang melayani dengan tulus, berkorban tanpa pamrih, dan menjadi teladan bagi umat. Namun sebagaimana Alkitab mengajarkan, pemimpin rohani juga tetap manusia yang dapat tergoda oleh berbagai kelemahan hati.
Karena itu Rasul Yakobus mengingatkan:
“Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kamu tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1)
Semakin besar pengaruh seseorang dalam gereja, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah.
Gereja Bukan Kerajaan Pribadi
Salah satu godaan terbesar dalam pelayanan adalah ketika jabatan rohani perlahan berubah menjadi pusat identitas seseorang.
Pelayanan yang semula merupakan panggilan untuk melayani dapat berubah menjadi sarana mempertahankan pengaruh. Ketika hal ini terjadi, kritik mulai dianggap ancaman. Perbedaan pendapat dianggap pemberontakan. Kesetiaan kepada Kristus bergeser menjadi kesetiaan kepada figur atau kelompok tertentu.
Padahal gereja bukan milik manusia.
Gereja bukan milik pendeta.
Gereja bukan milik organisasi.
Gereja bukan milik keluarga tertentu.
Gereja adalah milik Kristus.
Tidak ada pendeta yang mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Tidak ada organisasi gereja yang bangkit pada hari ketiga. Tidak ada tokoh rohani yang menjadi Juruselamat dunia.
Hanya Kristus yang layak menjadi Kepala Gereja.
Ketika seorang pemimpin mulai menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian, maka perlahan ia sedang membangun singgasana bagi dirinya sendiri di tengah jemaat yang seharusnya diarahkan kepada Kristus.
Ketika Ambisi Jabatan Masuk ke Dalam Pelayanan
Tantangan lain yang sering muncul dalam kehidupan bergereja adalah ketika pelayanan mulai dicampuri ambisi untuk meraih kedudukan dalam struktur organisasi gereja.
Keinginan untuk memimpin organisasi pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Organisasi gereja membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi pelayanan yang baik. Namun persoalan muncul ketika jabatan menjadi tujuan, bukan lagi sarana pelayanan.
Dalam situasi seperti ini, pelayanan dapat berubah menjadi arena politik rohani yang terselubung.
Relasi dibangun demi dukungan.
Pertemanan dibangun demi suara.
Kedekatan dengan jemaat digunakan sebagai modal pengaruh.
Bahkan tanpa disadari, mimbar dapat berubah menjadi panggung pencitraan.
Yang lebih memprihatinkan, jemaat terkadang diposisikan sebagai pendukung kelompok tertentu, bukan lagi sebagai domba-domba yang harus digembalakan.
Akibatnya, gereja mulai terpecah menjadi kubu-kubu yang saling berhadapan.
Ada kelompok pendukung si A.
Ada kelompok pendukung si B.
Ada kelompok yang lebih loyal kepada tokoh dibandingkan kepada Kristus.
Padahal ketika para murid Yesus berdebat mengenai siapa yang terbesar di antara mereka, Tuhan Yesus tidak memberikan strategi memenangkan jabatan. Ia justru memberikan teladan kerendahan hati dan pelayanan.
Dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari tingginya posisi, melainkan dari kedalaman pengabdian.
Pemimpin yang dipanggil Tuhan akan mencari tempat untuk melayani.
Sedangkan mereka yang dikuasai ambisi akan terus mencari posisi untuk berkuasa.
Filosofi Padi: Semakin Berisi Semakin Merunduk
Kearifan budaya Nusantara memberikan pelajaran yang sangat berharga melalui filosofi padi.
“Padi yang semakin berisi akan semakin merunduk.”
Kalimat sederhana ini sesungguhnya memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa.
Bulir padi yang kosong sering kali berdiri tegak seolah paling kuat. Sebaliknya, padi yang penuh justru merunduk karena berat oleh isi yang dimilikinya.
Demikian pula seorang pemimpin rohani.
Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia menyadari bahwa segala keberhasilan pelayanan adalah anugerah.
Semakin besar pengaruhnya, semakin rendah hatinya.
Semakin luas pelayanannya, semakin kecil keinginannya untuk dihormati.
Kerendahan hati bukan tanda kelemahan.
Kerendahan hati adalah buah kedewasaan rohani.
Karena itu pemimpin yang sehat tidak sibuk menuntut penghormatan. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak merasa terancam ketika orang lain bertumbuh. Ia tidak membangun tembok eksklusivitas yang memisahkan dirinya dari jemaat.
Filosofi Bambu: Kuat Karena Lentur
Bangsa Indonesia juga mengenal filosofi bambu yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Ketika badai datang, pohon besar yang kaku bisa patah. Namun bambu tetap bertahan karena mampu mengikuti arah angin tanpa kehilangan akarnya.
Demikian pula seorang pemimpin gereja.
Ia harus teguh dalam kebenaran Firman Tuhan, tetapi tetap memiliki hati yang lembut untuk mendengar.
Banyak konflik gereja sebenarnya bukan lahir dari perbedaan pendapat, melainkan karena hilangnya kemampuan untuk berdialog.
Ketika komunikasi mati, prasangka mulai tumbuh.
Ketika prasangka tumbuh, kasih mulai memudar.
Dan ketika kasih memudar, perpecahan menjadi sulit dihindari.
Gembala yang Mengenal Dombanya
Dalam tradisi penggembalaan zaman Alkitab, seorang gembala hidup bersama kawanan dombanya. Ia mengenal mereka satu per satu. Ia memahami kebutuhan mereka. Ia berjalan di depan untuk menunjukkan jalan yang benar.
Itulah sebabnya Yesus berkata:
“Akulah gembala yang baik.”
Gembala yang baik tidak hanya dikenal karena khotbahnya yang hebat.
Ia dikenal karena kasihnya.
Karena kehadirannya.
Karena ketulusannya.
Karena kesediaannya mendengar sebelum berbicara.
Karena kerelaannya melayani tanpa harus selalu dipuji.
Pemimpin yang sejati tidak membutuhkan panggung untuk terlihat besar.
Karena kebesarannya terlihat melalui pelayanannya.
Menjadi Jembatan, Bukan Tembok
Dalam budaya gotong royong masyarakat Indonesia, jembatan dibangun agar orang-orang yang terpisah dapat kembali terhubung.
Jembatan tidak dibangun untuk dirinya sendiri.
Jembatan ada untuk melayani banyak orang.
Demikian pula seorang pemimpin rohani.
Ia dipanggil menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan kasih Allah.
Ia hadir untuk mendamaikan yang bertikai.
Menguatkan yang lemah.
Merangkul yang tersisih.
Menyatukan yang tercerai-berai.
Karena itu, ketika seorang pemimpin lebih sibuk membangun kubu, mempertahankan pengaruh, atau memperbesar kelompoknya sendiri, maka ia sedang membangun tembok, bukan jembatan.
Padahal Kristus datang untuk merobohkan tembok pemisah dan mempersatukan umat-Nya.
Kesimpulan: Kristus Harus Tetap Menjadi Pusat
Perpecahan gereja tidak pernah lahir dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan dari hati yang kehilangan kerendahan diri, kehilangan kasih, dan kehilangan fokus kepada Kristus.
Karena itu gereja masa kini membutuhkan lebih dari sekadar pengkhotbah yang pandai berbicara.
Gereja membutuhkan pemimpin yang berani mengakui kesalahan.
Pemimpin yang tidak takut dikoreksi.
Pemimpin yang lebih mencintai persatuan daripada popularitas.
Pemimpin yang lebih mengutamakan pelayanan daripada jabatan.
Pemimpin yang lebih rindu membesarkan nama Kristus daripada membesarkan dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya ukuran keberhasilan pelayanan bukanlah seberapa besar posisi yang berhasil diraih dalam organisasi gereja.
Bukan pula seberapa luas pengaruh yang dimiliki.
Melainkan seberapa banyak orang dibawa semakin dekat kepada Kristus.
Sebagaimana padi yang semakin berisi akan semakin merunduk, dan sebagaimana bambu yang tetap kokoh karena kelenturannya, demikian pula pemimpin rohani yang sejati akan semakin rendah hati ketika Tuhan semakin memakainya.
Karena gereja hanya memiliki satu Kepala.
Yaitu Kristus.
Dan tugas setiap gembala bukanlah membangun takhta bagi dirinya sendiri, melainkan membangun jembatan agar umat dapat semakin dekat kepada Sang Kepala Gereja yang kekal.
Tentang Penulis
Romo Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K. adalah jurnalis, penulis, dan pemerhati kehidupan gereja serta kebangsaan. Aktif menulis berbagai refleksi mengenai kepemimpinan Kristen, kehidupan bergereja, nilai-nilai kebangsaan, serta kearifan lokal Nusantara. Melalui berbagai karya tulisnya, ia mendorong lahirnya gereja yang sehat, dewasa, bersatu, dan tetap berakar pada kebenaran Firman Tuhan di tengah dinamika zaman yang terus berubah.


