FiladelfiaNews.com
Yohanes 12:12–19
“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”
Sekilas, ini terdengar seperti iman yang luar biasa.
Sorak-sorai, pujian, pengakuan—semuanya tampak rohani.
Namun jika dibedah dengan jujur,
ini bukan puncak iman.
Ini adalah puncak kesalahpahaman.
Orang banyak itu tidak sedang menyembah Yesus.
Mereka sedang menyambut harapan mereka sendiri—yang kebetulan mereka tempelkan pada diri Yesus.
Mereka tidak mencari kebenaran.
Mereka mencari keuntungan.
Yesus dielu-elukan bukan karena siapa Dia,
tetapi karena apa yang mereka pikir bisa Dia lakukan.
Mukjizat menjadi alat promosi.
Popularitas menjadi legitimasi.
Dan Yesus diposisikan sebagai solusi instan bagi ambisi kolektif.
Ini bukan iman.
Ini transaksi.
Selama Yesus terlihat mampu mengalahkan Roma,
Dia disebut Raja.
Namun ketika ternyata Ia tidak mengangkat pedang,
tidak memimpin revolusi,
tidak memenuhi ekspektasi—
status-Nya langsung berubah.
Dari “Hosana” menjadi “tidak berguna”.
Dan sejarah mencatat, tidak butuh waktu lama
bagi kerumunan yang sama untuk berbalik arah.
Inilah wajah iman yang rapuh:
keras di mulut, kosong di pengenalan.
Pertanyaannya, apakah ini hanya milik orang-orang di Yerusalem?
Atau justru ini potret gereja hari ini?
Kita mungkin tidak menghamparkan daun palem,
tetapi kita menghamparkan ekspektasi.
Kita berkata “Tuhan, Engkau Raja”,
tetapi diam-diam kita menentukan seperti apa Raja itu seharusnya bekerja.
Kita menyebut Dia berdaulat,
tetapi hanya selama kedaulatan itu tidak mengganggu rencana kita.
Ketika hidup lancar, kita berkata: Tuhan baik.
Ketika hidup terguncang, kita mulai bertanya: Tuhan ke mana?
Lebih jujur lagi,
banyak orang tidak meninggalkan Yesus karena kehilangan iman—
tetapi karena Yesus tidak sesuai dengan imajinasi mereka sejak awal.
Masalahnya bukan pada Kristus yang tidak setia.
Masalahnya pada manusia yang sejak awal tidak pernah benar-benar tunduk.
Yesus tidak pernah berjanji menjadi alat pemuas ambisi manusia.
Ia datang sebagai Raja—yang menuntut pertobatan, bukan sekadar pujian.
Ia tidak datang untuk memperbaiki hidup sesuai keinginan kita,
melainkan untuk mengubahkan hidup sesuai kehendak-Nya.
Dan kehendak itu membawa-Nya ke salib,
bukan ke tahta dunia.
Di titik ini, iman palsu mulai runtuh.
Karena mengikuti Yesus yang sejati berarti:
tetap percaya ketika Dia tidak memenuhi harapan,
tetap taat ketika jalan-Nya tidak nyaman,
tetap menyembah ketika Dia terasa “tidak menguntungkan”.
Ini bukan iman yang populer.
Ini iman yang sejati.
Kita mungkin tidak pernah berteriak “Salibkan Dia!”
Namun setiap kali kita menolak kehendak-Nya
karena tidak sesuai dengan keinginan kita,
kita sedang melakukan hal yang sama—
hanya dengan bahasa yang lebih rohani.
Yesus bukan untuk disesuaikan dengan hidup kita.
Kitalah yang harus disesuaikan dengan Dia.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


