Di Tengah Arus Zaman, Bali Mengirim Pesan Persatuan Melalui Gerakan Firman Tuhan
Denpasar, Bali – Ketika banyak organisasi berlomba menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang serba cepat, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) justru memilih memperkuat fondasi yang telah menyatukan umat Kristen selama puluhan tahun: Firman Tuhan.
Pesan itulah yang mengemuka dalam pelantikan Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) LAI Mitra Bali yang berlangsung di Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Kristus Kasih, Denpasar, Minggu (31/5/2026).
Di tengah suasana ibadah yang penuh kekeluargaan, para pemimpin gereja, tokoh organisasi Kristen, dan pegiat pelayanan berkumpul bukan sekadar menyaksikan pelantikan sebuah kepengurusan baru. Mereka hadir membawa harapan yang sama, yakni memastikan bahwa Firman Tuhan tetap menjadi sumber pengharapan bagi generasi masa kini dan masa depan.
Pelantikan dilakukan langsung oleh Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia, Dr. Sigit Triyono, didampingi Penjabat Sementara Kepala Kantor Wilayah Surabaya yang membawahi Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT, Deyunita Sevenirim Tatung, serta Hana Faren.
Dalam arahannya, Dr. Sigit menegaskan bahwa tantangan pelayanan saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang penyediaan Alkitab, tetapi juga bagaimana menghadirkan Firman Tuhan secara relevan di tengah perubahan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan KKPD Mitra Bali menjadi bagian dari strategi besar LAI untuk membangun keterlibatan umat secara lebih luas melalui jejaring gereja, lembaga pelayanan, organisasi kemasyarakatan Kristen, hingga individu-individu yang memiliki kepedulian terhadap pelayanan Firman Tuhan.
“Firman Allah Menjangkau Semua Generasi bukan sekadar slogan. Ini adalah panggilan bersama agar tidak ada generasi yang kehilangan akses terhadap Firman Tuhan,” ujarnya.
Menariknya, pelantikan tersebut juga menjadi gambaran nyata tentang semangat persatuan di tengah keberagaman denominasi gereja. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah tokoh gereja dan organisasi Kristen dari berbagai latar belakang pelayanan, di antaranya Bishop Si Bagus Herman Suryadi, M.Th., Pdt. Dr. Victor A. Hamel, Pdt. I Made Budiarsa, M.Si., serta perwakilan PGIW Bali, PIKI Bali, PWKI, PEWARNA Bali, GAMKI, GMKI, Bali Partnership, dan berbagai lembaga pelayanan lainnya.
Dalam khotbahnya, Pdt. I Made Budiarsa mengingatkan bahwa kekuatan gereja tidak terletak pada besarnya organisasi atau banyaknya program yang dijalankan, melainkan pada kesediaan umat untuk berjalan bersama dalam semangat kasih dan pelayanan.
Ia mengajak seluruh peserta untuk mendukung gerakan DWD (Doakan, Wartakan, dan Donasikan), sebuah gerakan yang menjadi salah satu pilar pelayanan LAI dalam menjangkau masyarakat yang masih membutuhkan Alkitab di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, Ketua KKPD LAI Mitra Bali, Putu Elicia Dewianti Putra, S.Psi., M.M., mengungkapkan bahwa salah satu fokus utama yang akan segera dijalankan adalah memperluas dukungan terhadap Program Satu Dalam Kasih (SDK). Program tersebut bertujuan menghubungkan kepedulian umat dengan kebutuhan saudara-saudara seiman di daerah terpencil yang masih mengalami keterbatasan untuk memperoleh Alkitab karena faktor ekonomi maupun kondisi geografis.
Baginya, pelayanan Alkitab bukan hanya tentang membagikan kitab suci, tetapi juga menghadirkan harapan, penguatan iman, dan rasa kebersamaan bagi umat Tuhan di berbagai penjuru negeri.
Pelantikan KKPD LAI Mitra Bali akhirnya menjadi lebih dari sekadar peristiwa organisasi. Ia menjadi simbol bahwa di tengah berbagai perbedaan, gereja-gereja di Indonesia tetap memiliki satu titik temu yang sama: Firman Tuhan yang mempersatukan, menguatkan, dan menggerakkan umat untuk melayani sesama.
Dari Pulau Dewata, pesan itu kini kembali digaungkan—bahwa ketika gereja berjalan bersama, pelayanan akan menjangkau lebih luas, kasih akan bekerja lebih nyata, dan Firman Tuhan akan terus hidup dari generasi ke generasi.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi


