KALIMANTAN TIMUR – Demokrasi bukan hanya soal mencoblos lima tahun sekali. Di Kalimantan Timur, pesan itu kembali ditegaskan dalam kegiatan “Penguatan Demokrasi Daerah ke-3” yang mengangkat tema literasi politik sebagai fondasi kemajuan daerah.
Anggota DPRD Kalimantan Timur, , menegaskan bahwa kualitas demokrasi tidak ditentukan oleh seberapa banyak suara, tetapi oleh seberapa cerdas masyarakat memahami apa yang mereka pilih.
Bukan Sekadar Tahu, Tapi Mengerti
Dalam forum tersebut, literasi politik dipahami lebih dalam—bukan hanya mengenal istilah atau tokoh, tetapi menyangkut kesadaran, sikap, hingga tanggung jawab dalam menyikapi isu publik.
“Literasi politik itu hak masyarakat. Jangan mudah percaya informasi yang belum jelas. Sekarang ini banyak sekali berita yang menyesatkan dan masyarakat sering terpancing,” tegas Yonavia, Sabtu (11/4/2026).
Pesan ini terasa relevan di tengah derasnya arus informasi digital, di mana kebenaran sering kalah cepat dari sensasi

Sebagai wilayah strategis penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks.
Di satu sisi, peluang pembangunan terbuka lebar. Namun di sisi lain, masyarakat dituntut lebih siap agar tidak terseret arus informasi yang menyesatkan atau kepentingan politik jangka pendek.
Tanpa literasi politik yang kuat, demokrasi bisa berubah menjadi sekadar formalitas—ramai di permukaan, tetapi rapuh di dalam.
Realita yang Tak Bisa Diabaikan
Sejumlah tantangan masih membayangi:
- Pemahaman masyarakat terhadap fungsi lembaga politik masih terbatas
- Partisipasi di daerah pedalaman belum merata
- Hoaks dan disinformasi terus berkembang di media sosial
- Generasi muda mulai menunjukkan sikap apatis terhadap politik
Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi menyangkut masa depan demokrasi itu sendiri.
Demokrasi Butuh Kesadaran, Bukan Sekadar Partisipasi
Upaya meningkatkan literasi politik tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Dibutuhkan kerja bersama:
- Pemerintah menghadirkan edukasi politik yang konsisten
- Partai politik menjalankan fungsi pendidikan, bukan hanya kontestasi
- Media menjadi sumber informasi yang sehat
- Dunia pendidikan membentuk cara berpikir kritis
- Masyarakat aktif berdialog dan tidak pasif menerima informasi
Karena demokrasi yang sehat lahir dari masyarakat yang sadar—bukan sekadar ikut arus.
Yonavia juga mengingatkan pentingnya memilih pemimpin secara rasional dan berintegritas, bukan karena pengaruh sesaat atau kepentingan pragmatis.
Keputusan politik bukan hanya berdampak hari ini, tetapi menentukan arah masa depan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan informasi, satu hal menjadi jelas:
Demokrasi tidak akan pernah kuat jika masyarakatnya malas berpikir.
Dan bangsa tidak akan maju jika kebenaran kalah oleh sensasi.
Di Kalimantan Timur, langkah itu sedang dimulai—
bukan dengan janji besar, tetapi dengan satu hal sederhana: mencerdaskan cara berpikir rakyatnya.


