Filadelfianews.com – Ada masa ketika gereja dikenal karena kesederhanaannya dalam mendengar Tuhan.
Kini, di beberapa ruang, gereja justru terlihat lebih piawai dalam mengatur arah—bahkan sebelum sempat bertanya siapa yang seharusnya memimpin.
Semua tetap berjalan.
Rapat berlangsung.
Keputusan dihasilkan.
Struktur tampak semakin kuat.
Namun satu hal yang jarang diperiksa:
apakah semua itu masih digerakkan oleh firman… atau sudah cukup digerakkan oleh kesepakatan?
Tidak ada yang salah dengan perencanaan.
Namun ada yang mulai janggal ketika doa hanya menjadi pembuka,
dan strategi menjadi penentu.
Yang dahulu dicari adalah kehendak Tuhan.
Sekarang, yang lebih sering dicari adalah titik temu.
Dan di antara keduanya, sering kali kebenaran menjadi hal yang paling mudah untuk disesuaikan.
Alkitab telah mengingatkan:
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)
Namun ketika pengertian manusia lebih dominan daripada kebergantungan kepada Tuhan,
arah pun mulai bergeser tanpa terasa.
Yang membuat semuanya tampak tetap baik-baik saja adalah bahasa yang digunakan.
Semua dibicarakan dengan sangat rohani.
Sangat tertata.
Sangat “berhikmat”.
Namun firman Tuhan mengingatkan:
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Matius 15:8)
Kepentingan tidak pernah datang dengan nama aslinya.
Ia datang sebagai “visi bersama”.
Ambisi tidak pernah tampil terang-terangan.
Ia hadir sebagai “tanggung jawab pelayanan”.
Dan perlahan, gereja belajar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Injil:
bagaimana menguasai tanpa terlihat menguasai.
Kekuasaan di dalam gereja tidak pernah mengaku sebagai kekuasaan.
Ia selalu datang dengan wajah pelayanan.
Namun Yesus telah berkata dengan sangat jelas:
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan.” (Matius 20:26)
Ketika pelayanan mulai digunakan untuk mempertahankan posisi,
maka maknanya telah bergeser.
Dan di titik itu, sulit membedakan mana panggilan… dan mana kepentingan.
Ironi terbesar bukan ketika gereja kacau,
melainkan ketika gereja terlihat sangat rapi—tetapi kehilangan kepekaan.
Semua terukur.
Semua terencana.
Semua terkendali.
Namun firman Tuhan berkata:
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Ketika firman tidak lagi menjadi penuntun utama,
maka kerapian tidak menjamin kebenaran.
Dan mungkin, tanpa disadari,
gereja tidak lagi kehilangan Tuhan karena ditolak—
melainkan karena tidak lagi diberi ruang.
Kristus tidak pernah mengajarkan cara mempertahankan posisi.
Ia justru menunjukkan bagaimana melepaskan segalanya.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24)
Namun hari ini, pilihan itu terasa terlalu mahal.
Lebih mudah membangun sistem daripada memikul salib.
Lebih aman menjaga posisi daripada kehilangan diri.
Dan di titik ini, gereja tidak sedang diserang dari luar—
ia sedang diuji dari dalam.
Barangkali gereja tidak sedang meninggalkan firman.
Ia hanya mulai memilih bagian mana yang paling mudah untuk dijalankan.
“Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat…” (2 Timotius 4:3)
Barangkali gereja tidak kehilangan arah.
Ia hanya terlalu banyak arah—dan semuanya tampak benar.
Barangkali Tuhan tidak diabaikan.
Ia hanya… tidak lagi menjadi satu-satunya suara.
Tidak semua penyimpangan terjadi secara besar dan jelas.
Sebagian justru terjadi secara halus—
hingga terasa seperti bagian dari pertumbuhan.
Mungkin gereja hari ini tidak sedang kehilangan Tuhan.
Ia hanya sudah cukup pandai berjalan sendiri—
padahal firman telah berkata:
“Akulah pokok anggur… di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5)
Dan mungkin, tanpa disadari,
yang paling berbahaya bukan ketika gereja ditinggalkan Tuhan—
tetapi ketika gereja merasa tidak lagi membutuhkan-Nya.


