Jakarta, 7 April 2026 — Tidak semua pertemuan menghasilkan kebijakan. Ada yang justru melahirkan perenungan. Ada yang menjadi teguran—bukan hanya bagi pemerintah, tetapi bagi seluruh bangsa.
Pertemuan antara Ketua Umum PB FORMULA, Tuan Guru Dedi Hermanto, dan Yusril Ihza Mahendra menjadi salah satu momen itu. Di tengah pembahasan kerja sama dan agenda kelembagaan, percakapan mereka bergeser ke wilayah yang lebih dalam: kondisi rohani kepemimpinan Indonesia.
Bangsa yang Sibuk Membangun, Tapi Lupa Menjaga Hati
Dalam suasana yang penuh keakraban, Tuan Guru Dedi Hermanto menyampaikan kegelisahan yang tidak bisa lagi dipendam.
“Kita sedang membangun banyak hal di luar, tetapi melupakan pembangunan di dalam—yaitu hati.”
Pernyataan ini menjadi cermin bagi kondisi bangsa hari ini. Di tengah pembangunan yang terlihat, ada sisi yang sering terabaikan: karakter, integritas, dan kesadaran akan Tuhan.
Menurutnya, kemajuan tanpa dasar rohani hanya akan melahirkan kehampaan.
Krisis yang Tidak Terlihat: Jauh dari Nilai Ilahi
Lebih dari sekadar krisis moral, ia menilai bangsa ini sedang menghadapi krisis rohani.
“Ketika manusia tidak lagi takut akan Tuhan, maka ia tidak takut melakukan apa pun.”
Kalimat ini menjadi peringatan keras. Sebab di titik itulah, kekuasaan bisa kehilangan arah—dan keadilan menjadi sekadar wacana.
Pemimpin dan Pertanggungjawaban di Hadapan Tuhan
Dalam pertemuan itu, muncul satu kesadaran penting: bahwa setiap pemimpin bukan hanya bertanggung jawab kepada rakyat, tetapi juga kepada Tuhan.
Yusril Ihza Mahendra menanggapi dengan sikap yang tenang dan penuh perenungan.
“Semua yang kita jalani pada akhirnya akan kita pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa jabatan bukan hanya amanah publik, tetapi juga amanah spiritual.
Mengembalikan Roh dalam Sistem
PB FORMULA menawarkan pendekatan yang jarang disentuh dalam kebijakan publik: menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dalam tubuh birokrasi.
Melalui program pembinaan karakter berbasis iman, mereka berharap lahir aparatur negara yang tidak hanya bekerja dengan kemampuan, tetapi juga dengan hati yang takut akan Tuhan.
“Perubahan bangsa tidak dimulai dari sistem, tetapi dari hati yang diubahkan.”
Panggilan untuk Bertobat, Bukan Sekadar Berbenah
Pertemuan ini tidak hanya menghasilkan wacana, tetapi menghadirkan sebuah pesan yang lebih dalam—bahkan bersifat profetik.
Bahwa bangsa ini tidak cukup hanya berbenah, tetapi perlu kembali.
Kembali kepada nilai.
Kembali kepada kebenaran.
Kembali kepada Tuhan.
Harapan bagi Masa Depan Bangsa
Di akhir pertemuan, tidak ada keputusan besar yang diumumkan. Namun ada satu hal yang tertanam: harapan.
Harapan bahwa Indonesia akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak hanya cerdas, tetapi juga takut akan Tuhan.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada apa yang terlihat—
tetapi pada siapa yang memimpin, dan kepada siapa ia bersandar.
Sumber: Zoel
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: TIM Redaksi


