Yogyakarta, 7 April 2026 – Fenomena gereja yang dinilai semakin terjebak dalam rutinitas internal mendapat sorotan serius dari Pdt. Soleman Samuel, S.Th. Ia menilai, banyak gereja saat ini mulai bergeser dari panggilan utamanya sebagai pelaku misi Allah (Missio Dei), dan justru lebih sibuk mengurus aktivitas internal.
Pendiri Yayasan Rumah Buah Hati yang juga Gembala Livingstone Community ini menyebut, kecenderungan tersebut menjadi tanda bahwa gereja sedang berada dalam titik rawan kehilangan identitas rohaninya.
“Ketika gereja hanya fokus pada ibadah rutin, program, dan pengelolaan internal, tetapi tidak lagi bergerak keluar, maka gereja sedang menjauh dari tujuan keberadaannya,” ujar Pdt. Soleman dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa mandat utama gereja sudah sangat jelas tertulis dalam Amanat Agung, yakni pergi dan menjadikan semua bangsa murid. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit gereja yang justru lebih nyaman berada di dalam “zona aman” pelayanan internal.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi melahirkan gereja yang tampak aktif secara organisasi, tetapi kehilangan daya jangkau dan dampak spiritual secara nyata.
“Gereja bisa terlihat hidup dari luar, tetapi kehilangan denyut misinya. Ini yang perlu disadari bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa panggilan gereja bersifat global dan tidak terbatas pada komunitas sendiri. Gereja, kata dia, dipanggil untuk hadir lintas budaya, lintas batas, dan menjangkau mereka yang belum tersentuh.
Kritik Sekaligus Solusi
Tidak hanya mengkritik, Pdt. Soleman juga menawarkan langkah konkret bagi jemaat yang rindu melihat gereja kembali pada jalur misinya.
Ia mendorong jemaat untuk tidak pasif menunggu, melainkan mulai bergerak dari dalam, menjadi terang, serta berani menyuarakan kembali panggilan misi dengan bijaksana.
“Perubahan tidak selalu harus dimulai dari atas. Jemaat pun bisa menjadi penggerak, selama tetap berjalan dalam kasih dan hikmat,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya meninggalkan pola pikir sempit yang terjebak dalam sekat denominasi. Menurutnya, misi adalah panggilan bagi seluruh tubuh Kristus, bukan milik kelompok tertentu.
Dalam situasi di mana dorongan misi tidak selalu diterima, ia mengingatkan agar jemaat tetap setia.
“Ketaatan kepada Tuhan tidak bergantung pada penerimaan manusia. Justru di situlah integritas iman diuji,” ujarnya.
Seruan untuk Kembali ke Esensi
Di akhir pernyataannya, Pdt. Soleman mengajak gereja untuk melakukan refleksi mendalam: apakah gereja masih bergerak sebagai komunitas yang diutus, atau justru terjebak sebagai komunitas yang hanya berkumpul.
Ia menegaskan, gereja sejati bukan sekadar tempat pertemuan, tetapi gerakan yang hidup dan diutus untuk menjangkau dunia.
“Gereja harus kembali kepada panggilannya—menjangkau jiwa, melintasi budaya, dan membawa terang sampai ke ujung bumi,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicken


