Minahasa Selatan, Sulawesi Utara — Tidak semua perayaan meninggalkan jejak. Namun dari Desa Elusan, sebuah pesan besar justru lahir—bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilanjutkan.
Minggu, 29 Maret 2026, Jemaat GGP Yerusalem Elusan menjadi saksi sebuah momentum yang lebih dari sekadar seremoni. Perayaan HUT ke-103 Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) yang dirangkaikan dengan HUT ke-54 Jemaat GGP Yerusalem Elusan berubah menjadi panggung peneguhan iman, arah pelayanan, dan masa depan gereja.

Di bawah penggembalaan Pdt. Oktavianus Worung, suasana ibadah tidak hanya terasa khidmat, tetapi juga penuh makna. Ada pesan yang mengalir kuat—bahwa gereja bukan hanya berdiri, tetapi harus terus dibangun dengan kesadaran, kesatuan, dan keberanian untuk melangkah bersama.
Peresmian Pastori GGP Yerusalem Elusan menjadi simbol nyata bahwa iman tidak berhenti pada kata-kata. Ia diwujudkan, dibangun, dan ditanam sebagai warisan bagi generasi berikutnya.
Peresmian dilakukan oleh Pdt. Donal Kapugu, S.Th, Ketua Departemen Pemuda Pusat GGP, mewakili Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta, M.Th.

Namun yang disampaikan bukan sekadar seremoni peresmian. Dalam sambutannya, Pdt. Donal Kapugu langsung menyentuh inti dari setiap pembangunan—hati manusia.
“Apa yang dibangun tanpa hati yang benar akan runtuh. Tetapi apa yang dibangun dengan hati yang dipersembahkan kepada Tuhan akan berdiri kuat,” tegasnya.
Ia merumuskan tiga kekuatan utama yang menjadi dasar setiap pembangunan:
- Totalitas hati — karena Tuhan melihat kesungguhan, bukan sekadar hasil.
- Ketulusan dalam bekerja — karena pelayanan sejati lahir dari hati yang murni.
- Kebersamaan yang kokoh — karena tidak ada keberhasilan tanpa persatuan.
Sementara itu, suasana ibadah semakin dalam ketika Pdt. Holly Rombot, M.Th menyampaikan Firman Tuhan dengan tema nasional: “Tak Berkesudahan Kasih Setia Tuhan.”

Pesannya sederhana, namun menghantam kesadaran banyak orang.
“Kasih setia Tuhan itu nyata, tidak pernah habis, dan selalu bekerja dalam hidup manusia. Itu adalah pemberian paling berharga dari Allah.”
Namun ia tidak berhenti di sana. Ia menantang jemaat untuk hidup berbeda:
- Jangan melupakan Tuhan, bahkan saat hidup terasa baik-baik saja.
- Hiduplah berdampak, karena iman yang sejati selalu terlihat.
- Jadilah berkat, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan nyata.
Di tengah kebersamaan itu, kehadiran tokoh gereja dan pemerintah seperti Pdt. Dr. Melky Langi, Pdt. Jelini Watuseke, M.Pdk, serta jajaran Pemerintah Desa Elusan, semakin menegaskan bahwa gereja dan masyarakat tidak berjalan sendiri—melainkan saling menopang.
Hukum Tua Desa Elusan, Charles Turangan, SE, menyampaikan satu hal yang sederhana namun kuat:
“Keberhasilan hanya lahir dari kebersamaan. Jika kita saling menopang, maka kita akan melihat hasilnya.”
Namun puncak pesan justru datang dari Pdt. Oktavianus Worung—sebuah penegasan yang tidak hanya berbicara kepada jemaat lokal, tetapi kepada seluruh keluarga besar GGP.

Ia menegaskan bahwa gereja tidak boleh berhenti pada rutinitas, tetapi harus bergerak dengan dampak nyata melalui tiga pilar utama:
- Marturia — kesaksian iman
- Koinonia — persekutuan yang hidup
- Diakonia — pelayanan kasih
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen gereja—dari pusat hingga jemaat—untuk tetap berjalan dalam satu arah melalui Visi Threefold dan Misi Exceed.
Namun dalam nada yang lebih dalam, ia menyampaikan sesuatu yang terasa sederhana, tetapi memiliki makna besar tentang masa depan gereja.
“Apa yang sudah Tuhan kerjakan melalui kepemimpinan hari ini, jangan kita biarkan terputus. Kita jaga, kita lanjutkan, dan kita kuatkan—supaya semakin berdampak.”
Ia menegaskan bahwa kekuatan gereja bukan terletak pada memulai ulang, tetapi pada kesetiaan untuk melanjutkan apa yang sudah Tuhan percayakan.
“Kita tidak sedang memulai sesuatu yang baru. Kita sedang melanjutkan apa yang sudah Tuhan rancang. Di situlah kekuatan kita—ketika kita tetap satu dalam arah dan tujuan.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi banyak yang mendengar, pesannya jelas:
arah harus dijaga, dan apa yang sudah berjalan tidak boleh berhenti.
Dengan penuh harapan, ia menutup dengan doa yang menjadi seruan bersama:
“Kiranya visi ini terus berlanjut ke depan. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Salam Threefold.”
Dari Elusan, sebuah suara kecil berubah menjadi pesan besar:
Gereja tidak hanya dibangun untuk hari ini—tetapi untuk dilanjutkan.
Dan ketika iman dikerjakan dengan hati, dijaga dalam kebersamaan, serta diarahkan dengan visi yang jelas—
gereja tidak hanya bertahan… tetapi akan berdampak jauh melampaui zamannya.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi









