Patroli sunyi di Sajingan Besar berubah menjadi operasi besar yang menyelamatkan banyak masa depan.
Sambas, 26 Maret 2026 — Malam di perbatasan RI–Malaysia tak pernah benar-benar tidur. Di tengah gelap dan sunyi kawasan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, langkah-langkah prajurit terus menyisir jalur yang rawan menjadi pintu masuk kejahatan lintas negara.
Pada Kamis dini hari, 12 Maret 2026, sekitar pukul 01.45 WIB, rutinitas itu berubah menjadi momen krusial.
Personel Pos Sungai Tengah dari Satgas Pamtas Yonarhanud 1 Kostrad mendapati sebuah kendaraan yang melintas dengan gerak-gerik mencurigakan. Insting prajurit bekerja. Kendaraan itu dihentikan—namun justru melaju kencang, memecah ketenangan malam.
Kejar-kejaran tak terhindarkan. Dalam situasi terbatas, dengan pencahayaan minim, aparat tetap berupaya menghentikan kendaraan tersebut. Tembakan peringatan dilepaskan, menjadi penanda bahwa situasi tidak lagi biasa.
Di tengah pelarian, paket-paket dibuang ke pinggir jalan.
Pagi hari belum sepenuhnya datang saat penyisiran dimulai. Satu per satu paket ditemukan. Total 51 paket sabu dengan berat 54,234 kilogram berhasil diamankan. Pencarian berlanjut hingga akhirnya ditemukan satu paket tambahan seberat 1,063 kilogram.
Jumlah keseluruhan mencapai 55,297 kilogram—angka yang tidak hanya besar, tetapi juga membawa makna tentang bahaya yang berhasil dicegah.
Di balik keberhasilan ini, tidak ada sorotan berlebihan di lapangan. Yang ada hanyalah kewaspadaan, disiplin, dan tanggung jawab yang dijalankan tanpa kompromi.
Pangdam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras prajurit yang terus menjaga wilayah perbatasan dari berbagai ancaman.
Seluruh barang bukti kini diamankan oleh Pomdam XII/Tanjungpura untuk proses hukum lebih lanjut. Sementara itu, pelaku masih dalam pencarian, menandakan bahwa tugas belum selesai.
Di garis batas negara, para prajurit bekerja dalam senyap. Namun dari senyap itulah, mereka menjaga agar ancaman tidak pernah benar-benar masuk ke dalam negeri.
(Penkostrad)
Jurnalis: Romo Kefas


