Istana Diserbu Rakyat! Momen Langka Lebaran Bersama Prabowo Bikin Haru dan Bangga
Jakarta — Sabtu (21/3/2026) menjadi hari yang tak biasa di Istana Kepresidenan Jakarta. Ribuan warga memadati halaman Istana dalam satu momen yang jarang terjadi: bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto di hari Lebaran.
Bukan sekadar open house.
Ini adalah momen ketika jarak antara rakyat dan pemimpin seolah runtuh.
Sejak pagi, antrean panjang sudah mengular. Wajah-wajah penuh harap datang dari berbagai latar belakang—ada pekerja, anak-anak, hingga penyandang disabilitas. Semua datang dengan satu tujuan yang sama: ingin melihat, bahkan menyentuh langsung sosok Presiden.
Dan ketika Presiden Prabowo hadir, suasana berubah.
Didampingi putranya, Didit Hediprasetyo, ia berjalan di tengah kerumunan tanpa sekat. Menyalami warga satu per satu, menyapa dengan hangat, dan membalas antusiasme rakyat dengan senyum yang terasa dekat.
Padahal, di hari yang sama, ia baru saja menunaikan salat Idulfitri di Aceh Tamiang bersama jajaran menteri. Namun kelelahan seolah tak terlihat—yang tampak justru energi untuk hadir di tengah rakyatnya.
Reza, salah satu warga, mengaku tak menyangka akhirnya bisa masuk ke Istana.
“Ini pertama kali seumur hidup saya. Rasanya bangga banget,” katanya.
Momen haru datang dari Nina yang membawa adiknya, Samuel, seorang penyandang disabilitas.
“Kami datang dengan penuh harapan. Dan hari ini benar-benar jadi kenyataan. Ini luar biasa,” ujarnya.
Di tengah keramaian, suara tawa Ayu—seorang anak kecil—menjadi warna tersendiri.
“Senang banget! Bisa salaman sama Pak Presiden, dapat mainan juga!” katanya riang.
Bagi Aji Agung Waruna, pengemudi ojek daring, pengalaman ini terasa lebih dalam dari sekadar pertemuan biasa.
“Kami merasa dihargai. Ini bukan hanya acara, ini perhatian nyata,” ucapnya.
Sementara Thalia dan Marco mengungkapkan rasa takjub mereka.
“Biasanya cuma lihat di TV. Sekarang bisa ketemu langsung. Ini momen yang nggak akan terlupakan,” kata mereka.
Gelar griya ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia menjelma menjadi simbol kuat bahwa kepemimpinan tidak harus berjarak.
Hari itu, Istana bukan hanya milik negara.
Ia menjadi milik rakyat.
Dan dari sana, lahir satu rasa yang sulit dijelaskan—
bangga, haru, dan percaya.
(BPMI Setpres / Setkab RI)
Jurnalis: Romo Kefas


