FiladelfiaNews – Di tengah dunia yang semakin keras, aneh rasanya ketika seseorang berkata ia “takut pada orang baik.” Kalimat ini terdengar berlawanan dengan logika. Bukankah yang seharusnya ditakuti adalah kejahatan?
Namun justru di situlah letak kedalaman maknanya.
Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, hati kita segera bersiap: melindungi diri, menjaga jarak, bahkan melawan. Tetapi ketika seseorang datang dengan ketulusan yang murni—tanpa pamrih, tanpa syarat—kita tidak selalu siap menerimanya.
Mengapa?
Karena kebaikan yang tulus menembus pertahanan yang selama ini kita bangun.
Ia tidak memberi ruang untuk curiga, tidak menyediakan alasan untuk membalas dengan setengah hati. Kebaikan seperti itu memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri: bahwa kita sering memberi dengan perhitungan, mencintai dengan syarat, dan peduli dengan batas.
Di hadapan orang baik, kita seperti bercermin—dan tidak semua orang siap melihat bayangannya sendiri.
Alkitab mengingatkan dalam Amsal 27:19:
“Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.”
Ketakutan itu bukan karena orang baik itu menakutkan, tetapi karena kebaikan mereka terlalu jernih. Ia memperlihatkan betapa dunia ini sering berjalan dengan logika yang berbeda: logika untung-rugi, logika balas jasa, logika kepentingan.
Orang baik memutus logika itu.
Mereka memberi tanpa menunggu. Mereka hadir tanpa diminta. Mereka tetap peduli bahkan ketika dilupakan. Dan sikap seperti itu membuat kita merasa berhutang—bukan hutang materi, tetapi hutang makna.
Namun sesungguhnya, kebaikan sejati tidak pernah menciptakan hutang.
Ia hanya mengalir.
Firman Tuhan berkata dalam Lukas 6:35:
“Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi.”
Kearifan lokal pun mengajarkan nilai yang sama.
Dalam peribahasa Jawa dikatakan:
“Sopo nandur, bakal ngundhuh.”
(Siapa yang menanam, pasti akan menuai.)
Sementara dalam peribahasa Sunda ada ungkapan yang tak kalah kuat:
“Melak cabe jadi cabe, melak bonteng jadi bonteng.”
(Menanam cabai akan berbuah cabai, menanam mentimun akan berbuah mentimun.)
Dua budaya berbeda, namun satu pesan yang sama:
hidup adalah cermin dari apa yang kita tanam.
Kebaikan tidak pernah hilang, ia hanya menunggu waktu untuk kembali dalam bentuk yang mungkin tidak kita duga.
Kita sering keliru, mengira bahwa setiap kebaikan harus dibalas kepada orang yang sama. Padahal, kebaikan bekerja seperti cahaya—ia tidak berhenti pada satu titik. Ia berpindah, menyentuh, dan menerangi yang lain.
Maka jika kita merasa tidak mampu membalas kebaikan seseorang, jangan biarkan perasaan itu berubah menjadi rasa takut atau menjauh. Jadikan itu sebagai panggilan untuk bertumbuh.
Belajar menjadi lebih peka.
Belajar memberi tanpa menghitung.
Belajar hadir tanpa alasan.
Sebab firman Tuhan kembali menegaskan dalam Galatia 6:9:
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
Karena pada akhirnya, ukuran hidup bukan pada seberapa banyak yang kita terima, tetapi pada seberapa luas kebaikan yang kita teruskan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan mengerti—
bahwa yang sebenarnya kita takuti bukanlah orang baik…
melainkan kemungkinan bahwa kita bisa menjadi seperti mereka,
namun belum berani memulainya.
(Redaksi)


