Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Pewarna Indonesia & Bocah Bekasi Utara, Pemred Pelitanusantara.com
BEKASI, FILADELFIANEWS.COM— Tidak semua kemenangan adalah akhir dari perjuangan.
Dalam terang iman, kemenangan justru sering menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Demikian pula yang terjadi dalam kepemimpinan Tri Adhianto dan Abdul Harris Bobihoe di Kota Bekasi. Kemenangan pada Pilkada 2024, dengan selisih suara yang relatif tipis—sekitar tujuh ribuan suara—bukan sekadar capaian politik, tetapi dapat dibaca sebagai sebuah panggilan.
Panggilan untuk melayani.
Panggilan untuk membuktikan.
Dan lebih dalam lagi—panggilan untuk menghadirkan keadilan bagi semua.
Dalam perspektif rohani, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa maksud.
Kemenangan yang tidak mutlak justru mengandung pesan:
bahwa kepercayaan itu diberikan, tetapi harus dijaga dengan kerendahan hati.
Seperti yang tertulis dalam Lukas 16:10,
“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
Selisih yang kecil bukan berarti lemah—
melainkan kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan dalam tanggung jawab yang besar.
Satu tahun berjalan, berbagai program telah dilaksanakan.
Program Rp100 juta per RW, peningkatan peran RT dan RW, penguatan layanan kesehatan, hingga penataan birokrasi—semua ini dapat dilihat sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat.
Namun dalam iman Kristen, bekerja bukan sekadar menjalankan program.
Bekerja adalah melayani.
Seperti dalam Kolose 3:23:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Artinya, setiap kebijakan, setiap keputusan, seharusnya lahir dari hati yang ingin melayani, bukan sekadar memenuhi target.
Data menunjukkan sekitar 72,02 persen masyarakat merasa puas.
Ini adalah tanda baik.
Namun bukan tujuan akhir.
Karena masih ada sekitar 28 persen yang belum merasakan perubahan.
Dalam terang iman, suara mereka bukanlah gangguan—
melainkan pengingat.
Bahwa pelayanan sejati tidak berhenti pada mayoritas,
tetapi menjangkau mereka yang belum tersentuh.
Seperti dalam Matius 18:12, tentang domba yang hilang—
bahwa satu yang tersisa pun tetap dicari.
Banjir yang terus berulang.
Jalan rusak yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pasar tradisional yang belum bangkit.
Sampah yang menumpuk di Bantargebang.
Semua ini bukan hanya masalah kota.
Ini adalah ladang pelayanan.
Karena di balik setiap masalah, ada kehidupan yang terdampak, ada keluarga yang bergumul, ada harapan yang menunggu jawaban.
Dan di situlah kepemimpinan diuji—
bukan pada kata-kata, tetapi pada belas kasih yang diwujudkan dalam tindakan.
Bekasi adalah kota yang beragam.
Dan dalam iman Kristen, keberagaman bukan ancaman—
melainkan kesempatan untuk menunjukkan kasih.
Seperti dalam Roma 12:18:
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”
Namun damai tidak cukup dijaga.
Damai harus diperjuangkan melalui keadilan.
Salah satu bentuk keadilan yang paling nyata adalah dalam dunia pendidikan.
Setiap anak, apapun latar belakangnya, berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan keyakinannya.
Karena itu, menjadi penting bagi pemerintah untuk memastikan:
tersedianya guru agama sesuai dengan iman setiap peserta didik di sekolah negeri.
Ini bukan sekadar kebijakan administratif.
Ini adalah bentuk nyata dari kasih yang adil—
yang tidak membedakan, tidak mengabaikan, dan tidak menutup mata.
Dalam Alkitab, pohon dikenal dari buahnya.
Satu tahun pertama adalah masa menanam.
Tahun berikutnya adalah waktu untuk mulai melihat buahnya.
Apakah perubahan itu nyata?
Apakah keadilan itu terasa?
Apakah pelayanan itu menjangkau semua?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi ukuran yang sebenarnya.
Sebagai warga Bekasi Utara, saya melihat satu hal yang sederhana:
Harapan itu masih ada.
Kepercayaan itu belum hilang.
Namun iman pun mengajarkan bahwa harapan harus dijaga dengan tindakan.
Seperti dalam Yakobus 2:17:
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Kemenangan dengan selisih tipis bukanlah kelemahan.
Itu adalah pengingat—
bahwa kepemimpinan ini adalah panggilan, bukan sekadar posisi.
Panggilan untuk melayani dengan hati.
Panggilan untuk bekerja dengan integritas.
Panggilan untuk menghadirkan keadilan bagi semua.
Karena pada akhirnya, bukan manusia yang menjadi hakim terakhir—
melainkan Tuhan yang melihat setiap hati dan setiap perbuatan.
Dan sejarah akan mencatat bukan hanya apa yang dikerjakan,
tetapi dengan hati seperti apa semuanya itu dilakukan.


