Bekasi – Ada pelajaran berharga tentang waktu, kerendahan hati, dan cara Tuhan bekerja dalam perjalanan sejarah manusia. Hal itu tercermin dalam Rapat Paripurna Istimewa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bekasi ke-29 yang digelar pada 10 Maret 2026, ketika nama Tri Adhianto akhirnya disebut kembali dalam pembacaan sejarah kepemimpinan Kota Bekasi.
Dalam sidang paripurna tersebut, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, Abdul Manan, membacakan naskah perjalanan sejarah Kota Bekasi, termasuk daftar para wali kota yang pernah memimpin kota ini. Dalam pembacaan itu, disebutkan bahwa Tri Adhianto pernah menjabat sebagai Wali Kota Bekasi pada tahun 2023 dalam sisa masa jabatan periode 2018–2023.
Meskipun masa kepemimpinannya hanya berlangsung sekitar satu bulan, penyebutan tersebut menjadi penegasan bahwa setiap pengabdian—sekecil apa pun menurut ukuran manusia—tetap memiliki tempat dalam catatan sejarah.
Peristiwa ini terasa bermakna karena berbeda dengan momen Paripurna HUT Kota Bekasi ke-27 pada tahun 2024. Saat itu, dalam pembacaan sejarah kepemimpinan yang disampaikan mantan Sekretaris Daerah Kota Bekasi, Rayendra Sukarmadji, nama Tri Adhianto tidak disebut dalam daftar wali kota.
Kondisi tersebut sempat menjadi perbincangan publik. Namun respons Tri Adhianto kala itu justru menunjukkan sikap yang penuh ketenangan. Melalui media sosialnya ia menuliskan sebuah kalimat reflektif:
“Sejarah bisa dicatat, tetapi kenangan tetap dalam ingatan.”
Sikap ini mengingatkan banyak orang bahwa pengabdian sejati tidak selalu menuntut pengakuan manusia. Dalam perspektif iman, setiap kerja, pelayanan, dan tanggung jawab yang dijalankan dengan hati yang tulus pada waktunya akan menemukan maknanya.
Alkitab sendiri mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan setiap pekerjaan yang dilakukan dengan kasih dan kesetiaan.
“Karena Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya.” (Ibrani 6:10)
Kini, ketika nama Tri Adhianto kembali disebut dalam Paripurna HUT Kota Bekasi ke-29, banyak pihak melihatnya bukan sekadar koreksi sejarah administratif. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa waktu sering kali menjadi alat Tuhan untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Sejarah mungkin ditulis oleh manusia, tetapi dalam iman orang percaya, setiap perjalanan hidup tetap berada dalam penyertaan Tuhan—yang melihat, mengingat, dan menghargai setiap bentuk pengabdian yang dilakukan dengan setia.
Jurnalis: Romo Kefas


