Jakarta – Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) melakukan audiensi dengan Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (9/3/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara perguruan tinggi teologi dengan pemerintah dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.
Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh dialog. Kehadiran para pimpinan sekolah tinggi teologi dari berbagai daerah di Indonesia menjadi simbol komitmen dunia pendidikan teologi dalam memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, dan dialog antar umat beragama.
Pertemuan ini dilaksanakan setelah rangkaian kegiatan Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) dan Konvensi Injil Sekolah Tinggi Teologi se-Indonesia (KISSTTI) yang diselenggarakan BMPTKKI pada 5–7 Maret 2026 di Jakarta.
Ketua Umum BMPTKKI Prof. Dr. Stevri I. Lumintang menyampaikan bahwa BMPTKKI yang berdiri sejak 2018 kini menaungi sekitar 217 Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, perguruan tinggi teologi memiliki peran penting tidak hanya dalam pengembangan akademik, tetapi juga dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan umat beragama.
Dalam kesempatan tersebut, Lumintang juga memaparkan sejumlah karya akademik yang telah dihasilkan BMPTKKI sebagai kontribusi bagi penguatan dialog lintas iman. Salah satunya adalah buku “Teologi Tanah Air: Ekoteologi Kristen bagi Keadilan, Keberlanjutan, dan Kebangsaan.” Buku tersebut menyoroti tanggung jawab iman dalam menjaga kelestarian lingkungan serta membangun kesadaran teologis terhadap keberlanjutan kehidupan.
Selain itu, BMPTKKI juga telah menyusun buku “Teologi dan Kurikulum Cinta Berbeda Agama dan Kepercayaan” yang dipersembahkan sebagai bentuk penghargaan kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar. Buku tersebut mendorong penguatan nilai kasih, toleransi, serta dialog antar umat beragama sebagai bagian dari pembangunan kehidupan berbangsa yang damai.
Dalam pertemuan itu, pengurus BMPTKKI juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, atas dukungan yang diberikan kepada perguruan tinggi keagamaan Kristen di Indonesia dalam penguatan kualitas pendidikan dan riset akademik.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Masjid Istiqlal sejak awal dibangun sebagai simbol persatuan bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa rumah ibadah seharusnya menjadi ruang yang memancarkan nilai kemanusiaan universal serta memperkuat semangat toleransi antar umat beragama.
Sebelum bertemu Menteri Agama, rombongan BMPTKKI disambut oleh Dr. Abu Huraerah Abdul Salam, Lc., MA, Kepala Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat Badan Pengelola Masjid Istiqlal periode 2024–2028, yang menjelaskan sejarah pembangunan masjid negara tersebut.
Masjid Istiqlal diinisiasi oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno bersama para tokoh bangsa sebagai simbol syukur atas kemerdekaan Indonesia. Desain arsitektur masjid ini dibuat oleh Frederich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen yang memenangkan sayembara desain dengan konsep bertema “Ketuhanan”.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan BMPTKKI juga diajak meninjau Terowongan Silaturahim, jalur penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral Jakarta yang menjadi simbol kuat toleransi dan persaudaraan lintas iman di Indonesia.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat kerja sama antara BMPTKKI dan Kementerian Agama dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, dialogis, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Turut mendampingi Ketua Umum BMPTKKI dalam audiensi tersebut antara lain Sekretaris Umum Dr. Nasokhili Giawa, Bendahara Umum Dr. Antonius Natan, serta sejumlah pengurus BMPTKKI dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Kristen di Indonesia.
(Romo Kefas – Jurnalis)


