Filadelfianews.com – Di antara sekian banyak tokoh dalam sejarah misi Kristen di Asia, nama Robert Alexander Jaffray sering kali muncul sebagai figur penting—namun ironisnya jarang dibicarakan dalam narasi sejarah di Indonesia. Padahal, pengaruh pelayanannya menjangkau wilayah luas dari Tiongkok hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Bagi sebagian besar gereja Kemah Injil di Asia, Jaffray bukan sekadar seorang misionaris. Ia dianggap sebagai salah satu arsitek strategi misi regional yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan gereja di beberapa negara pada awal abad ke-20.
Namun di luar lingkaran gereja tersebut, kisah hidupnya masih relatif kurang dikenal.
Padahal, perjalanan hidupnya menyimpan cerita yang sangat menarik: seorang anak dari keluarga elite Kanada yang meninggalkan masa depan politik dan bisnis demi melayani di ladang misi Asia.
Anak Elite Kanada yang Memilih Jalan Berbeda
Robert Alexander Jaffray lahir pada 16 Desember 1873 di Toronto, Kanada. Ia berasal dari keluarga yang memiliki pengaruh besar dalam dunia politik dan media.
Ayahnya, Robert Jaffray Sr., dikenal sebagai pengusaha sukses sekaligus tokoh politik yang kemudian menjabat sebagai senator Kanada. Selain itu, ia juga memiliki hubungan dengan dunia pers melalui kepemilikan surat kabar di Toronto.
Dengan latar belakang tersebut, masa depan Jaffray sebenarnya telah dipersiapkan dengan jelas: ia diharapkan melanjutkan warisan keluarga dalam dunia bisnis dan politik.
Namun perjalanan hidupnya berubah drastis ketika ia masih remaja.
Pada usia 16 tahun, ia mengalami pengalaman pertobatan Kristen yang kuat melalui pelayanan A. B. Simpson, tokoh gereja yang kemudian mendirikan Christian and Missionary Alliance. Dari pengalaman itu, muncul panggilan untuk melayani di ladang misi.
Keputusan ini menimbulkan konflik dalam keluarganya. Ayahnya tidak setuju dengan rencana tersebut, terutama karena ia berharap putranya tetap tinggal di Kanada dan melanjutkan usaha keluarga.
Namun Jaffray tetap pada keputusannya.
Memulai Pelayanan di Tiongkok
Setelah menjalani pendidikan di New York Missionary Training Institute, Jaffray diutus sebagai misionaris ke Tiongkok pada tahun 1897. Ia ditempatkan di kota Wuchow (Wuzhou) di Tiongkok Selatan.
Di kota inilah ia menghabiskan sebagian besar masa pelayanannya.
Tidak seperti sebagian misionaris yang hanya bertugas sementara, Jaffray berusaha berakar di tempat pelayanannya. Ia mempelajari bahasa Tionghoa dengan serius hingga mampu membaca dan menulis dengan baik.
Pendekatan ini membuatnya lebih mudah menjalin hubungan dengan masyarakat setempat dan membangun pelayanan yang berkelanjutan.
Selain kegiatan penginjilan, ia juga mengembangkan pendidikan teologi bagi orang-orang percaya lokal. Sekolah Alkitab yang ia dirikan di Wuchow menjadi pusat pelatihan bagi banyak penginjil dan pemimpin gereja Tionghoa.
Ia juga mendirikan South China Alliance Press, sebuah percetakan yang memproduksi bahan pengajaran Alkitab dalam bahasa Tionghoa. Literatur tersebut kemudian digunakan oleh gereja-gereja di berbagai wilayah Tiongkok.
“Pria Peta”: Strategi Misi yang Melampaui Batas Negara
Salah satu ciri khas pelayanan Jaffray adalah visinya yang luas terhadap misi global. Ia sering mempelajari peta dunia dan berdoa bagi wilayah-wilayah yang belum terjangkau pelayanan Injil.
Karena kebiasaan ini, rekan-rekannya menjulukinya sebagai “man of the map” atau “pria peta”.
Julukan itu bukan sekadar simbol. Jaffray memang memiliki strategi misi yang bersifat regional. Ia memandang Asia sebagai satu kawasan besar yang harus dijangkau secara sistematis.
Pendekatan ini terlihat dari keterlibatannya dalam pembukaan ladang misi di berbagai negara.
Pada tahun 1911, ia terlibat dalam perintisan pelayanan di Vietnam, khususnya di kota Da Nang. Pelayanan tersebut kemudian berkembang menjadi jaringan gereja yang cukup luas.
Jejak Awal Pelayanan Kemah Injil di Indonesia
Salah satu bagian penting dari pelayanan Jaffray yang jarang dibahas dalam sejarah gereja Indonesia adalah perannya dalam membuka ladang misi di Hindia Belanda.
Pada akhir tahun 1920-an, ia melakukan perjalanan eksplorasi ke beberapa wilayah di kepulauan Indonesia, termasuk Kalimantan.
Hasil perjalanan tersebut mendorongnya untuk mendirikan pusat pelayanan di Makassar pada tahun 1931.
Makassar kemudian menjadi basis penting bagi pelayanan Christian and Missionary Alliance di Indonesia.
Di tempat ini, Jaffray kembali menerapkan pola pelayanan yang sama seperti di Tiongkok: membangun pendidikan teologi, melatih pemimpin lokal, serta mengembangkan pelayanan literatur.
Dari pelayanan literatur inilah kemudian berkembang penerbit Kristen Kalam Hidup di Bandung yang hingga kini masih dikenal luas di kalangan gereja Indonesia.
Pelayanan Alliance kemudian berkembang melalui kerja sama antara misionaris dari Amerika Utara, Tiongkok, dan para pemimpin gereja lokal di berbagai wilayah Indonesia.
Perang Dunia II dan Akhir Hidupnya
Situasi berubah drastis ketika Perang Dunia II meluas ke Asia.
Pada tahun 1941, Jepang menginvasi Hindia Belanda. Banyak warga Barat ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp interniran, termasuk para misionaris.
Robert Alexander Jaffray ditangkap dan dipenjarakan di daerah Pare-Pare, Sulawesi Selatan.
Kondisi di kamp tawanan sangat berat. Kekurangan makanan, penyakit, serta fasilitas medis yang terbatas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para tahanan.
Dalam kondisi kesehatan yang sudah lemah akibat diabetes dan penyakit lainnya, keadaan tersebut semakin memperburuk kondisi Jaffray.
Pada tanggal 29 Juli 1945, hanya beberapa minggu sebelum perang berakhir di kawasan tersebut, Robert Alexander Jaffray meninggal dunia dalam kamp tawanan.
Warisan yang Masih Bertahan
Meskipun hidupnya berakhir dalam keadaan sederhana dan penuh penderitaan, pengaruh pelayanan Jaffray tidak berhenti di situ.
Gereja-gereja yang lahir melalui pelayanan Christian and Missionary Alliance di Tiongkok, Vietnam, dan Indonesia terus berkembang hingga saat ini.
Sekolah-sekolah Alkitab, pelayanan literatur, dan jaringan gereja yang dibangun pada awal abad ke-20 menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan gereja di kawasan Asia.
Di Indonesia sendiri, jejak pelayanan tersebut masih dapat dilihat melalui perkembangan gereja Kemah Injil serta lembaga penerbitan Kristen yang berasal dari fondasi misi yang ia bangun.
Kisah Robert Alexander Jaffray menunjukkan bagaimana satu kehidupan yang didedikasikan untuk pelayanan lintas budaya dapat meninggalkan pengaruh yang melampaui zaman dan batas negara.
Dan meskipun namanya tidak selalu disebut dalam buku sejarah populer, jejak pelayanannya masih hidup dalam komunitas gereja yang terus bertumbuh di berbagai wilayah Asia hingga hari ini.
Dari berbagai Sumber disusun oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)









