TUHAN TIDAK PERNAH BERHENTI BERBICARA, KITALAH YANG SERING BERHENTI MENDENGAR
Ketika Firman Allah Dikalahkan oleh Suara Ego Manusia
“Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah…”
Yohanes 8:47
Di zaman yang dipenuhi informasi, manusia semakin mudah mendengar banyak suara, tetapi semakin sulit membedakan suara Tuhan. Ironisnya, bukan karena Allah menjadi jauh atau berhenti berbicara, melainkan karena hati manusia telah dipenuhi oleh ego, ambisi, kepentingan pribadi, dan keyakinan bahwa dirinya sudah mengetahui jalan yang terbaik.
Banyak orang berkata, “Saya sedang mencari suara Tuhan.” Namun pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar siap menaati apa yang Tuhan katakan apabila jawabannya berbeda dengan keinginan kita?
Sering kali kita tidak sedang mencari kehendak Tuhan. Kita hanya mencari pembenaran dari Tuhan atas keputusan yang telah kita buat. Doa berubah menjadi formalitas, sementara keputusan telah ditentukan jauh sebelum kita berlutut di hadapan-Nya.
Inilah akar persoalan manusia sejak kejatuhan di Taman Eden. Ular tidak mengajarkan Adam dan Hawa untuk membenci Tuhan. Sebaliknya, ia menanamkan gagasan bahwa manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat. Dosa pada dasarnya bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi penolakan terhadap otoritas Allah.
Pola yang sama masih terjadi hingga hari ini. Manusia modern lebih mempercayai analisis daripada penyembahan, lebih mengandalkan pengalaman daripada firman, dan lebih mengejar validasi dunia daripada kehendak Allah. Akibatnya, suara Tuhan semakin terdengar asing karena hati telah terbiasa mengikuti suara sendiri.
Padahal Allah tidak pernah kehilangan cara untuk berbicara kepada umat-Nya. Melalui Kitab Suci, Roh Kudus terus menerangi pikiran orang percaya agar memahami kebenaran. Karena itu, mendengar suara Tuhan tidak boleh dipisahkan dari firman-Nya. Setiap pengalaman rohani, kesan batin, maupun keputusan hidup harus diuji berdasarkan Alkitab. Allah tidak mungkin memimpin seseorang bertentangan dengan firman yang telah diwahyukan-Nya.
Yesus memberikan teladan yang sempurna. Di Taman Getsemani, Ia tidak memilih jalan yang paling nyaman. Dalam pergumulan-Nya Ia berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Kalimat itu menunjukkan bahwa ketaatan bukan lahir dari keadaan yang mudah, tetapi dari hati yang sepenuhnya tunduk kepada Bapa.
Inilah ukuran kedewasaan rohani yang sesungguhnya. Orang yang dewasa bukanlah orang yang selalu mempunyai jawaban atas setiap persoalan, melainkan orang yang tetap bersedia diajar oleh Tuhan. Ia tidak takut dikoreksi oleh firman, tidak malu mengakui kesalahan, dan tidak gengsi mengubah arah ketika Tuhan menunjukkan jalan yang lebih benar.
Sayangnya, dunia mengajarkan kita untuk mempertahankan pendapat. Injil justru mengajarkan kita untuk menyangkal diri. Dunia memuji orang yang keras mempertahankan ego. Kristus memanggil murid-murid-Nya untuk memikul salib dan mengikuti Dia. Di situlah perbedaan antara hikmat dunia dan hikmat Allah.
Mungkin hari ini Tuhan tidak sedang mencari orang yang paling berbakat, paling terkenal, atau paling berpengaruh. Tuhan sedang mencari hati yang lembut, yang rela berkata, “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Hati seperti inilah yang akan dipakai Allah untuk menggenapi rencana-Nya.
Maka sebelum kita meminta Tuhan mengubah keadaan, izinkanlah Dia terlebih dahulu mengubah hati kita. Sebab perubahan terbesar dalam hidup bukan terjadi ketika situasi menjadi lebih baik, melainkan ketika hati kembali menempatkan Firman Allah sebagai otoritas tertinggi.
Sebab orang yang berjalan menurut kehendak Tuhan mungkin tidak selalu menempuh jalan yang paling mudah, tetapi ia akan berjalan di jalan yang paling benar.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Kiranya di tengah dunia yang penuh kebisingan ini, kita tidak kehilangan kepekaan untuk mendengar suara Sang Gembala. Sebab ketika Firman menjadi dasar hidup, iman menjadi kokoh, keputusan menjadi bijaksana, dan langkah kita akan dipimpin menuju kehendak-Nya yang sempurna.
Tuhan Yesus memberkati.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
(Romo Kefas)


