KETIKA KATA-KATA MENJADI MURAH
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
“Orang yang setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
(Lukas 16:10a)
Ada masa ketika sebuah jabat tangan lebih kuat daripada tanda tangan. Ada masa ketika ucapan seseorang lebih bernilai daripada materai. Sekali berkata “ya”, maka “ya”. Sekali berjanji, maka janji itu dijaga sampai tuntas.
Namun zaman telah berubah.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang dipenuhi kata-kata indah, tetapi sering kali miskin makna. Komitmen diucapkan dengan mudah, dukungan diberikan dengan cepat, janji ditebar tanpa beban. Ironisnya, semakin mudah sesuatu diucapkan, semakin sulit pula untuk melihatnya diwujudkan.
Banyak orang tidak sadar bahwa kepercayaan tidak pernah runtuh karena kesalahan besar yang terjadi sekali waktu. Kepercayaan biasanya hancur perlahan, dimulai dari janji-janji kecil yang dianggap sepele. Dari kata “nanti” yang tidak pernah menjadi kenyataan. Dari komitmen yang terus ditunda sampai akhirnya dilupakan.
Dalam perspektif teologi, persoalan ini bukan sekadar etika sosial. Ini adalah persoalan karakter rohani.
Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia. Sejak Kejadian hingga Wahyu, Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari firman-Nya. Apa yang dijanjikan-Nya kepada Abraham digenapi. Apa yang dinubuatkan para nabi tentang Mesias digenapi dalam Yesus Kristus. Bahkan keselamatan yang dijanjikan kepada umat manusia dibayar lunas melalui salib.
Kesetiaan Allah adalah fondasi dari iman Kristen.
Karena itu, ketika orang percaya hidup tanpa integritas terhadap perkataannya sendiri, sesungguhnya ia sedang menampilkan karakter yang bertolak belakang dengan karakter Allah yang diakuinya.
Masalah terbesar manusia sering kali bukan karena tidak mampu melakukan sesuatu. Masalah terbesar manusia adalah terlalu cepat berbicara sebelum menghitung kesanggupan dirinya.
Tidak sedikit orang ingin terlihat baik di hadapan manusia sehingga lebih memilih memberikan harapan daripada berkata jujur. Mereka takut dianggap tidak peduli. Takut dianggap tidak mendukung. Akhirnya mereka mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak siap mereka lakukan.
Padahal dalam banyak keadaan, berkata “tidak” dengan jujur jauh lebih terhormat daripada berkata “ya” lalu menghilang tanpa kabar.
Yesus berkata:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.”
(Matius 5:37)
Perhatikan bahwa Yesus tidak sedang mengajarkan teknik komunikasi. Ia sedang membentuk karakter.
Dunia mungkin kagum pada orang yang pandai berbicara. Tetapi Tuhan mencari orang yang dapat dipercaya.
Dunia menghormati mereka yang memiliki kekuasaan. Tetapi Surga menghargai mereka yang memiliki kesetiaan.
Karena itu ukuran kedewasaan rohani bukanlah seberapa sering seseorang berdoa di depan umum, seberapa fasih ia mengutip ayat, atau seberapa tinggi jabatannya dalam organisasi maupun pelayanan. Ukuran kedewasaan rohani terlihat dari apakah perkataannya masih dapat dipercaya ketika tidak ada seorang pun yang mengawasinya.
Ada sebuah satir yang layak direnungkan:
Sebagian orang begitu sibuk menjaga citra di hadapan manusia sehingga lupa menjaga integritas di hadapan Tuhan. Mereka ingin dikenal sebagai pribadi yang baik, tetapi lupa bahwa kebaikan sejati tidak dibuktikan oleh ucapan, melainkan oleh tindakan.
Pada akhirnya, manusia mungkin bisa melupakan apa yang pernah ia katakan. Tetapi karakter akan selalu mencatatnya. Dan Tuhan tidak pernah kehilangan catatan tentang setiap perkataan yang keluar dari mulut kita.
Mungkin hari ini ada komitmen yang belum kita selesaikan. Ada janji yang masih menggantung. Ada harapan seseorang yang tertunda karena kelalaian kita.
Jika demikian, jangan menunggu esok.
Sebab integritas tidak dibangun oleh janji yang diucapkan, melainkan oleh janji yang ditepati.
Sebelum meminta orang lain mempercayai kita, tanyakan terlebih dahulu:
Apakah perkataan saya masih memiliki bobot? Apakah “ya” saya masih berarti ya, dan “tidak” saya masih berarti tidak?
Karena pada akhirnya, karakter seseorang tidak diukur dari apa yang ia janjikan, tetapi dari apa yang ia lakukan setelah berjanji.
“Integritas adalah ketika tindakan kita tetap setia mengikuti apa yang pernah diucapkan, sekalipun tidak ada seorang pun yang mengingatkannya.”
— Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K.
(Romo Kefas)


