Ketika Harta Menjadi Tujuan Hidup: Kehilangan yang Tidak Disadari Banyak Orang
Manusia sering berpikir bahwa ia membutuhkan lebih banyak untuk bahagia, padahal yang sering dibutuhkan adalah hati yang belajar merasa cukup.
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
(Matius 6:21)
Ada sebuah ironi yang terjadi dalam kehidupan manusia modern.
Semakin maju teknologi, semakin besar penghasilan, semakin mudah memperoleh berbagai fasilitas hidup, ternyata tidak serta-merta membuat manusia semakin tenang. Justru banyak orang hidup dalam kecemasan, tekanan, persaingan, dan ketidakpuasan yang tidak pernah berakhir.
Mengapa?
Karena dunia mengajarkan bahwa kebahagiaan ada pada apa yang kita miliki, sementara Firman Tuhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ada pada siapa yang memiliki hati kita.
Masalah terbesar manusia bukanlah kurangnya berkat.
Masalah terbesar manusia adalah ketika berkat menggantikan posisi Tuhan di dalam hati.
Berkat Bukan Bukti Kesuksesan Rohani
Banyak orang mengukur keberhasilan hidup dari jumlah harta yang dimiliki.
Jika usaha berkembang, dianggap diberkati.
Jika memiliki rumah besar, dianggap sukses.
Jika rekening bertambah, dianggap hidupnya berhasil.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa ukuran utama berkat adalah materi.
Abraham diberkati.
Ayub diberkati.
Tetapi Yohanes Pembaptis hidup sederhana.
Para rasul banyak mengalami penderitaan.
Bahkan Yesus sendiri tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.
Ini menunjukkan bahwa berkat Tuhan tidak dapat diukur hanya dengan angka dan kekayaan.
Berkat terbesar bukanlah apa yang ada di tangan kita, tetapi apa yang terjadi di dalam hati kita.
Sebab seseorang dapat kaya secara materi tetapi miskin secara rohani.
Sebaliknya, seseorang dapat hidup sederhana namun kaya akan damai sejahtera, sukacita, dan pengenalan akan Tuhan.
Semua yang Kita Miliki Hanyalah Titipan
Salah satu akar kesombongan manusia adalah perasaan memiliki.
Kita berkata:
“Ini rumah saya.”
“Ini usaha saya.”
“Ini uang saya.”
“Ini pencapaian saya.”
Padahal jika direnungkan lebih dalam, apa yang benar-benar kita miliki?
Kesehatan bisa hilang.
Jabatan bisa berakhir.
Usaha bisa runtuh.
Kekayaan bisa lenyap.
Bahkan hidup yang kita jalani hari ini adalah anugerah yang Tuhan izinkan.
Alkitab mengajarkan bahwa manusia hanyalah pengelola, bukan pemilik.
Kita dipercayakan waktu, talenta, kesempatan, keluarga, pekerjaan, dan berkat materi untuk dikelola sesuai kehendak Tuhan.
Karena itu tidak ada alasan untuk bermegah.
Sebab segala sesuatu berasal dari Tuhan dan suatu hari akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Penyakit yang Bernama “Tidak Pernah Cukup”
Ada penyakit yang tidak bisa dideteksi oleh alat medis mana pun.
Penyakit itu bernama ketidakpuasan.
Orang yang terkena penyakit ini selalu merasa kurang.
Ketika memiliki satu, ia menginginkan dua.
Ketika memperoleh dua, ia menginginkan sepuluh.
Ketika memperoleh sepuluh, ia masih merasa kurang.
Masalahnya bukan pada jumlah yang dimiliki.
Masalahnya ada pada hati yang tidak pernah belajar bersyukur.
Setan sejak awal menggunakan strategi yang sama.
Di Taman Eden, Adam dan Hawa telah memiliki segalanya.
Namun mereka dibuat fokus pada satu hal yang belum mereka miliki.
Dan sejak saat itu manusia terus hidup dalam ilusi bahwa kebahagiaan ada pada sesuatu yang belum dimiliki.
Padahal sering kali Tuhan telah memberikan jauh lebih banyak daripada yang kita sadari.
Rasa Cukup Adalah Kekayaan Sejati
Rasul Paulus menulis sesuatu yang sangat radikal:
“Ibadah yang disertai rasa cukup memberi keuntungan besar.” (1 Timotius 6:6)
Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata kekayaan memberi keuntungan besar.
Ia berkata rasa cukup memberi keuntungan besar.
Rasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi.
Bukan berarti menolak kemajuan.
Bukan berarti malas bekerja.
Rasa cukup adalah kemampuan untuk bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan hari ini sambil tetap setia mengerjakan tanggung jawab yang diberikan-Nya.
Orang yang memiliki rasa cukup tidak hidup dikuasai iri hati.
Ia tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ia tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ancaman.
Karena sumber sukacitanya bukan berasal dari harta, melainkan dari Tuhan.
Jangan Menukar Kekekalan dengan Kenyamanan Sementara
Salah satu tragedi terbesar dalam kehidupan adalah ketika seseorang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan apa yang tidak dapat dibawanya ketika mati.
Yesus pernah menceritakan tentang seorang kaya yang sibuk membangun lumbung-lumbung yang lebih besar untuk menyimpan hartanya.
Namun malam itu juga jiwanya diambil.
Apa gunanya semua yang telah dikumpulkannya?
Yesus tidak sedang mengutuk kekayaan.
Yesus sedang mengingatkan bahwa hidup manusia jauh lebih bernilai daripada apa yang dimilikinya.
Ada orang yang kaya harta tetapi miskin kasih.
Ada yang kaya aset tetapi miskin hubungan dengan Tuhan.
Ada yang kaya jabatan tetapi miskin damai sejahtera.
Keberhasilan terbesar bukanlah memiliki banyak hal.
Keberhasilan terbesar adalah ketika kehidupan kita berkenan di hadapan Allah.
Harta Surgawi Tidak Pernah Kehilangan Nilainya
Segala sesuatu di dunia memiliki masa kedaluwarsa.
Uang bisa habis.
Properti bisa rusak.
Kendaraan bisa tua.
Jabatan bisa berganti.
Popularitas bisa hilang.
Namun ada investasi yang tidak pernah kehilangan nilainya.
Yaitu investasi dalam Kerajaan Allah.
Setiap doa yang dinaikkan.
Setiap jiwa yang dijangkau.
Setiap pelayanan yang dilakukan dengan tulus.
Setiap tindakan kasih yang dilakukan bagi sesama.
Setiap pengorbanan demi kebenaran.
Semuanya memiliki nilai kekal di hadapan Tuhan.
Itulah harta yang tidak dapat dicuri pencuri dan tidak dapat dirusak oleh waktu.
Tuhan memang rindu memberkati umat-Nya.
Namun tujuan berkat bukanlah agar kita semakin terikat kepada dunia.
Tujuan berkat adalah agar kita semakin mengenal hati Sang Pemberi Berkat.
Jangan jadikan uang sebagai tuan.
Jangan jadikan kekayaan sebagai identitas.
Jangan jadikan materi sebagai ukuran nilai diri.
Karena suatu hari semua yang ada di dunia akan ditinggalkan.
Tetapi hubungan kita dengan Tuhan akan kekal selamanya.
Belajarlah hidup dengan hati yang bersyukur.
Belajarlah merasa cukup.
Belajarlah menggunakan setiap berkat untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.
Sebab orang yang paling kaya di mata Tuhan bukanlah yang memiliki paling banyak, melainkan yang paling sadar bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, dipakai untuk Tuhan, dan pada akhirnya kembali untuk kemuliaan Tuhan.
Ketika Kristus menjadi harta terbesar dalam hidup kita, dunia tidak lagi mampu memperbudak hati kita. Dan ketika hati kita dimiliki oleh Tuhan, kita telah memiliki kekayaan yang tidak dapat dibeli oleh seluruh isi dunia.
Soli Deo Gloria
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
Alias Romo Kefas


