Tuhan Tidak Sedang Mencari Aktor Rohani, Melainkan Anak yang Mengasihi-Nya
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
Filadelfianews.com Pernahkah Anda berdiri di depan cermin sambil memastikan pakaian sudah rapi, rambut sudah tertata, dan wajah terlihat baik sebelum keluar rumah? Hampir semua orang melakukannya. Namun, pernahkah kita berdiri di hadapan firman Tuhan dan bertanya, “Bagaimana keadaan hatiku hari ini di hadapan-Mu?”
Ironisnya, kita sering lebih peduli dengan apa yang dipikirkan manusia daripada apa yang sedang dilihat oleh Allah.
Di zaman media sosial, pencitraan menjadi sesuatu yang lumrah. Orang bisa mengedit foto agar terlihat sempurna, memilih sudut terbaik untuk mendapatkan pujian, bahkan membangun identitas yang sama sekali berbeda dari kehidupan nyata. Sayangnya, kebiasaan itu kadang terbawa ke dalam kehidupan rohani. Kita belajar menampilkan kesalehan, tetapi lupa memelihara kedekatan dengan Tuhan.
Kita bisa terlihat aktif melayani, rajin menghadiri ibadah, fasih mengutip ayat Alkitab, bahkan dipercaya memimpin banyak orang. Namun semua itu belum tentu menjadi bukti bahwa hati kita sedang dekat dengan Allah.
Tuhan tidak pernah terpesona oleh penampilan.
Bayangkan sebuah apel yang tampak merah mengilap di rak supermarket. Semua orang ingin membelinya karena terlihat segar. Namun ketika dibelah, ternyata bagian dalamnya sudah membusuk. Kilau kulitnya hanya berhasil menipu mata manusia, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa buah itu tidak layak dimakan.
Demikian pula kehidupan rohani. Apa yang terlihat dari luar belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya di dalam.
Inilah sebabnya Yesus begitu keras menegur orang-orang Farisi. Mereka bukan orang yang tidak mengenal firman. Mereka sangat disiplin, sangat religius, dan sangat dihormati. Namun mereka lebih sibuk menjaga reputasi daripada membangun relasi dengan Allah. Mereka membersihkan bagian luar cawan, tetapi membiarkan bagian dalamnya dipenuhi keserakahan dan kemunafikan.
Teguran Yesus bukanlah penolakan terhadap ibadah atau ketaatan. Sebaliknya, Yesus sedang mengembalikan fokus bahwa semua bentuk kesalehan harus lahir dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.
Sebab kekristenan tidak pernah dimaksudkan menjadi panggung sandiwara.
Kekristenan adalah hubungan antara Bapa dan anak-anak-Nya. Seorang anak tidak perlu berpura-pura agar dikasihi ayahnya. Ia datang apa adanya, membawa kelemahan, air mata, kegagalan, dan pengharapannya. Demikian pula Allah tidak memanggil kita untuk menjadi aktor rohani yang pandai memainkan peran di depan banyak orang. Ia memanggil kita menjadi anak-anak yang hidup dalam kejujuran dan pertobatan.
Saya sering membayangkan kehidupan rohani seperti sebuah pohon yang berdiri di musim kemarau. Daun-daunnya mungkin masih tampak hijau untuk sementara waktu, tetapi jika akarnya tidak lagi menyerap air, lambat laun seluruh pohon akan mengering.
Begitu juga dengan orang percaya. Pelayanan bisa tetap berjalan, pujian tetap terdengar, jabatan tetap dipegang, tetapi jika akar hubungan dengan Tuhan tidak dipelihara melalui doa, firman, dan pertobatan, maka cepat atau lambat kehidupan rohani akan kehilangan daya hidupnya.
Yang menarik, Tuhan tidak pernah memulai perubahan dari ranting. Tuhan selalu memulai dari akar.
Inilah keindahan Injil. Allah tidak berkata, “Perbaikilah dirimu dulu baru Aku menerimamu.” Sebaliknya, melalui salib Kristus Allah menerima orang berdosa yang datang dengan iman, lalu Roh Kudus bekerja membarui hatinya setiap hari. Ketaatan bukanlah syarat untuk memperoleh kasih Allah, melainkan buah dari kasih Allah yang telah lebih dahulu diterima.
Karena itu, orang percaya tidak hidup untuk membuktikan bahwa dirinya layak diselamatkan. Orang percaya hidup sebagai respons syukur karena telah diselamatkan oleh anugerah.
Namun ada bahaya yang sering tidak kita sadari. Kita bisa begitu sibuk mengoreksi dunia sehingga lupa mengoreksi diri sendiri. Kita mudah menunjuk dosa orang lain, tetapi sulit mengakui kesombongan yang tersembunyi di balik pelayanan kita sendiri. Kita marah melihat kemunafikan di luar gereja, tetapi gagal melihat kemunafikan yang diam-diam tumbuh di dalam hati kita.
Padahal pertobatan sejati selalu dimulai dengan doa yang sederhana namun berat untuk diucapkan:
“Tuhan, jangan ubah orang lain lebih dulu. Ubahlah aku.”
Doa itu mungkin terdengar singkat, tetapi itulah awal dari kebangunan rohani yang sesungguhnya.
Seorang tukang bangunan yang bijaksana tidak akan menghabiskan biaya untuk mempercantik dinding jika ia tahu fondasinya retak. Ia akan membongkar bagian yang rusak dan memperkuat dasar bangunan, meskipun prosesnya memakan waktu dan terasa tidak nyaman.
Demikian pula Tuhan bekerja dalam hidup kita. Kadang Ia mengizinkan kegagalan, teguran, atau bahkan air mata untuk memperlihatkan bagian-bagian hati yang selama ini kita sembunyikan. Bukan karena Ia ingin menghukum, tetapi karena Ia mengasihi dan ingin membangun kita di atas dasar yang kokoh.
Pada akhirnya, ukuran kerohanian bukanlah seberapa sering nama kita disebut di mimbar atau seberapa banyak orang memuji pelayanan kita. Ukuran kerohanian adalah apakah karakter Kristus semakin nyata ketika tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikan kita.
Ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada jabatan, tidak ada gelar, dan tidak ada pujian manusia, apakah kita masih memilih hidup benar karena mengasihi Tuhan?
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada semua pencapaian rohani yang dapat dilihat mata.
Kiranya kita tidak menjadi seperti lilin hias yang indah namun tidak pernah memberi terang, atau seperti lonceng gereja yang berbunyi nyaring tetapi tidak pernah mendengar suaranya sendiri. Sebaliknya, biarlah kita menjadi pelita kecil yang mungkin tidak banyak dikenal orang, tetapi terus menyala karena minyak kasih karunia Allah tidak pernah habis.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak sedang mencari orang yang pandai memainkan peran sebagai orang kudus. Ia sedang mencari hati yang mau dibentuk, rela bertobat, dan setia mengasihi-Nya.
Karena hidup rohani yang sejati bukanlah tentang terlihat dekat dengan Tuhan di hadapan manusia, melainkan benar-benar berjalan bersama Tuhan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7)
Soli Deo Gloria.


