Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Bogor – Setiap hari jutaan orang membaca berita.
Mereka membuka telepon genggam saat sarapan pagi.
Mereka menggulir layar, membaca judul demi judul, lalu melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa.
Begitu cepat.
Begitu mudah.
Begitu sederhana.
Namun pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Bagaimana sebuah berita bisa sampai ke hadapan kita?
Siapa yang bekerja di balik setiap kalimat yang kita baca?
Dan berapa banyak waktu, tenaga, pikiran, bahkan pengorbanan yang harus diberikan agar sebuah informasi dapat hadir secara utuh di hadapan publik?
Kenyataannya, sebuah berita tidak lahir dari ruang kosong.
Ia lahir dari perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras, tanggung jawab, dan pengorbanan yang sering kali tidak pernah diketahui oleh pembacanya.
Sebelum sebuah berita terbit, selalu ada seorang jurnalis yang lebih dahulu meninggalkan kenyamanannya.
Saat sebagian orang masih berkumpul bersama keluarga, seorang jurnalis mungkin sedang menempuh perjalanan menuju lokasi kejadian.
Saat sebagian orang memilih berlindung dari hujan, seorang jurnalis mungkin sedang berdiri di tengah cuaca buruk untuk memastikan tidak ada fakta yang terlewatkan.
Saat sebagian orang menjauh dari sebuah peristiwa yang penuh risiko, seorang jurnalis justru harus mendekatinya.
Karena tugasnya bukan sekadar melihat.
Tetapi memahami.
Bukan sekadar mendengar.
Tetapi memverifikasi.
Bukan sekadar menulis.
Tetapi mempertanggungjawabkan setiap kata yang dipublikasikan.
Di sinilah sesungguhnya jurnalisme dimulai.
Bukan dari meja redaksi.
Bukan dari layar komputer.
Melainkan dari kesediaan seseorang untuk mencari kebenaran di tengah berbagai versi cerita yang beredar.
Sebuah peristiwa harus diamati.
Data harus dikumpulkan.
Narasumber harus diwawancarai.
Dokumen harus diperiksa.
Informasi harus diverifikasi.
Semua pihak harus diberikan kesempatan untuk berbicara.
Fakta-fakta yang berserakan harus dirangkai menjadi sebuah informasi yang utuh, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kemudian berita itu masih harus melewati proses penyuntingan.
Setiap kalimat diperiksa.
Setiap nama dicek.
Setiap data diverifikasi kembali.
Karena dalam dunia jurnalistik, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga.
Sekali hilang, sangat sulit untuk mendapatkannya kembali.
Namun ada kenyataan lain yang jarang dipahami masyarakat.
Ketika membaca sebuah berita, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya.
Mereka melihat tulisan yang rapi.
Mereka melihat foto yang menarik.
Mereka melihat informasi yang tersedia selama dua puluh empat jam tanpa henti.
Tetapi mereka tidak melihat perjuangan sebuah media untuk tetap hidup.
Padahal di balik setiap berita yang terbit, ada biaya yang harus terus ditanggung.
Ada domain yang harus diperpanjang setiap tahun agar media tetap dapat diakses.
Ada hosting yang harus dibayar agar ribuan berita tetap tersimpan dan tidak hilang dari ruang digital.
Ada server yang harus tetap menyala siang dan malam.
Ada perangkat kerja yang harus dirawat dan diperbarui.
Ada kamera yang harus diperbaiki ketika rusak.
Ada komputer yang harus terus bekerja.
Ada kuota internet yang harus selalu terisi agar berita dari lapangan dapat dikirim ke ruang redaksi.
Semua itu membutuhkan biaya yang nyata.
Tidak sedikit media yang bertahan bukan karena keuntungan besar.
Melainkan karena idealisme orang-orang di dalamnya yang percaya bahwa masyarakat berhak memperoleh informasi yang benar.
Mereka terus bekerja di tengah keterbatasan.
Mereka terus menulis di tengah tantangan.
Mereka terus bertahan meskipun penghargaan yang diterima sering kali tidak sebanding dengan pengorbanan yang diberikan.
Dan di tengah perjuangan itu, ada kenyataan yang terkadang terasa menyakitkan.
Tidak sedikit jurnalis yang diundang secara resmi untuk meliput sebuah kegiatan.
Mereka datang karena menghormati undangan.
Mereka meluangkan waktu.
Mengorbankan tenaga.
Mengeluarkan biaya perjalanan.
Membawa perlengkapan kerja.
Menyiapkan ruang publikasi.
Bahkan terkadang harus menempuh perjalanan yang jauh demi memenuhi tugas jurnalistiknya.
Namun sesampainya di lokasi, mereka justru diperlakukan seolah tidak penting.
Informasi yang dibutuhkan tidak tersedia.
Narasumber sulit ditemui.
Akses peliputan dibatasi.
Konfirmasi yang diperlukan diabaikan.
Dan tidak jarang jurnalis hanya dianggap sebagai alat publikasi yang dibutuhkan saat acara berlangsung lalu dilupakan setelahnya.
Padahal yang sedang mereka lakukan bukan sekadar menghadiri sebuah acara.
Mereka sedang menjalankan fungsi sosial yang sangat penting.
Mereka sedang membangun jembatan antara sebuah peristiwa dan masyarakat.
Mereka sedang memastikan bahwa informasi yang sampai kepada publik bukan sekadar cerita, melainkan fakta yang telah diuji.
Ada pula kenyataan yang lebih halus, tetapi sering kali lebih menyakitkan.
Tidak sedikit narasumber yang memahami betul pentingnya media ketika mereka membutuhkan perhatian publik.
Ketika sebuah program ingin dikenal masyarakat, mereka mencari jurnalis.
Ketika sebuah kegiatan ingin diketahui banyak orang, mereka menghubungi media.
Ketika sebuah organisasi ingin membangun citra, mereka mengundang wartawan.
Ketika sebuah prestasi ingin dipublikasikan, mereka meminta ruang pemberitaan.
Namun setelah tujuan itu tercapai, tidak jarang keberadaan jurnalis kembali dilupakan.
Hubungan yang semula hangat berubah menjadi dingin.
Komunikasi yang sebelumnya begitu aktif perlahan menghilang.
Seolah-olah jurnalis hanya dibutuhkan sebagai kendaraan popularitas.
Sebagai alat pencitraan.
Sebagai sarana untuk memperkenalkan nama, jabatan, lembaga, atau kepentingan tertentu kepada masyarakat.
Padahal sesungguhnya hubungan antara narasumber dan jurnalis tidak seharusnya dibangun atas dasar kepentingan sesaat.
Hubungan itu seharusnya dibangun di atas rasa saling menghormati.
Saling memahami peran.
Dan saling menghargai kontribusi masing-masing.
Seorang jurnalis tidak pernah menciptakan prestasi yang tidak ada.
Ia hanya membantu menyampaikan kepada publik apa yang memang layak diketahui.
Sebaliknya, seorang narasumber juga tidak dapat menjangkau masyarakat luas secara efektif tanpa adanya media yang menjadi jembatan informasi.
Karena itu keduanya sesungguhnya adalah mitra dalam membangun ruang publik yang sehat.
Sangat disayangkan ketika ada pihak yang menikmati manfaat pemberitaan, memperoleh eksposur, membangun citra, meningkatkan popularitas, bahkan mendapatkan keuntungan sosial dan profesional dari publikasi media, tetapi lupa menghargai proses panjang yang telah dilalui insan pers.
Padahal penghargaan tidak selalu berbentuk materi.
Terkadang yang paling berharga hanyalah sikap.
Ucapan terima kasih yang tulus.
Keterbukaan dalam memberikan informasi.
Kemudahan dalam proses konfirmasi.
Penghormatan terhadap profesi.
Dan kesadaran bahwa berita yang baik tidak lahir dalam satu malam.
Karena sesungguhnya jurnalis bukan mesin publikasi yang dapat dipanggil ketika dibutuhkan lalu dilupakan ketika kepentingan telah selesai.
Jurnalis adalah manusia.
Mereka memiliki keluarga.
Mereka memiliki kebutuhan.
Mereka memiliki tanggung jawab.
Dan mereka juga memiliki harga diri yang patut dihormati.
Menghargai jurnalis bukan berarti memberikan perlakuan istimewa.
Menghargai jurnalis berarti menghormati profesinya.
Menghormati kerja keras yang tidak terlihat.
Menghormati waktu yang telah dikorbankan.
Dan menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
Sebab sesungguhnya yang diperjuangkan seorang jurnalis bukan hanya sebuah berita.
Yang diperjuangkan adalah kebenaran.
Dan bagi orang percaya, perjuangan untuk menghadirkan kebenaran bukan hanya tugas profesi, melainkan juga panggilan moral.
Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 8:32:
“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Kebenaran membebaskan manusia dari kebohongan.
Kebenaran membebaskan masyarakat dari manipulasi.
Kebenaran membebaskan bangsa dari prasangka dan fitnah yang merusak kehidupan bersama.
Karena itulah setiap usaha mencari fakta, memeriksa informasi, dan menyampaikan kenyataan kepada publik sesungguhnya merupakan bagian dari perjuangan menghadirkan terang di tengah dunia yang sering kali dipenuhi kebisingan informasi.
Rasul Paulus juga mengingatkan dalam Efesus 4:25:
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kejujuran bukan sekadar etika jurnalistik.
Kejujuran adalah fondasi kehidupan bersama.
Tanpa kejujuran, kepercayaan akan runtuh.
Tanpa kepercayaan, masyarakat akan kehilangan arah.
Dan tanpa kebenaran, keadilan akan sulit ditegakkan.
Di zaman ketika semua orang dapat membuat konten dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik, jurnalisme tetap memiliki sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun.
Tanggung jawab.
Media sosial dapat membuat informasi menjadi viral.
Tetapi jurnalisme mengajarkan pentingnya memeriksa sebelum menyebarkan.
Mengonfirmasi sebelum menyimpulkan.
Mencari fakta sebelum membentuk opini.
Dan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.
Karena itu keberadaan media yang sehat bukan hanya kepentingan jurnalis.
Ia adalah kebutuhan masyarakat.
Sebab ketika media yang independen dan bertanggung jawab berhenti hidup, yang hilang bukan sekadar sebuah situs berita.
Yang hilang adalah ruang bagi publik untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya.
Yang hilang adalah catatan sejarah.
Yang hilang adalah suara mereka yang selama ini tidak memiliki kekuatan untuk berbicara.
Mungkin nama seorang jurnalis tidak akan selalu dikenal.
Mungkin pengorbanannya tidak akan selalu terlihat.
Mungkin kerja kerasnya tidak akan selalu mendapat penghargaan.
Namun sejarah selalu membuktikan satu hal.
Peradaban tidak dibangun oleh mereka yang menyembunyikan kebenaran.
Peradaban dibangun oleh mereka yang berani mencatatnya.
Dan sering kali, catatan itu lahir dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam.
Tangan yang menulis ketika orang lain beristirahat.
Tangan yang memotret ketika orang lain berlindung.
Tangan yang mencatat ketika orang lain memilih diam.
Tangan seorang jurnalis.
Maka ketika Anda membaca sebuah berita hari ini, ingatlah bahwa di balik setiap kalimat yang tersaji ada langkah kaki yang lelah, ada kuota yang terpakai, ada domain yang harus diperpanjang, ada hosting yang harus dibayar, ada media yang terus berjuang untuk bertahan, dan ada orang-orang yang bekerja tanpa banyak sorotan agar kebenaran tetap memiliki tempat di tengah dunia yang semakin bising.
Karena pada akhirnya, menjaga jurnalisme bukan hanya menjaga sebuah profesi.
Menjaga jurnalisme berarti menjaga hak masyarakat untuk mengetahui kebenaran.
Dan seperti firman Tuhan dalam Amsal 12:22:
“TUHAN membenci bibir dusta, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.”
Maka selama masih ada jurnalis yang bekerja dengan integritas, selama masih ada media yang berani berdiri di pihak kebenaran, selama itu pula harapan akan masyarakat yang cerdas, kritis, dan berkeadaban akan tetap menyala.
Sebab kebenaran mungkin tidak selalu menjadi yang paling keras suaranya.
Tetapi pada akhirnya, kebenaranlah yang akan bertahan paling lama.


