FiladelfiaNews.com — Mimbar gereja sering menjadi tempat di mana kata-kata indah tentang kasih, iman, pengorbanan, dan kemurahan hati disampaikan dengan penuh semangat.
Setiap minggu jemaat diingatkan bahwa memberi adalah tanda iman. Memberi adalah wujud kasih kepada Tuhan. Bahkan sering dikatakan bahwa memberi adalah pintu berkat.
Kalimat yang paling sering terdengar pun tidak asing di telinga jemaat:
“Siapa yang mau diberkati Tuhan, mari menabur.”
Jemaat pun mengangguk-angguk. Ada yang tersentuh, ada yang tergerak, bahkan ada yang rela memberi lebih dari yang sebenarnya mereka miliki.
Namun ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan.
Ketika jemaat sedang mengalami kesulitan hidup—usaha bangkrut, sakit, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi tekanan ekonomi—mereka datang kepada pemimpin rohani dengan harapan mendapatkan pertolongan.
Jawaban yang mereka terima biasanya sangat rohani.
“Berdoalah kepada Tuhan.”
“Tingkatkan imanmu.”
“Jangan kurang percaya.”
Kadang ditambahkan sedikit motivasi rohani:
“Tuhan pasti menyediakan jalan.”
Dan percakapan pun selesai.
Masalahnya bukan pada doa, sebab doa memang penting. Tetapi yang sering membuat banyak orang tersenyum pahit adalah standar yang terasa berbeda.
Ketika jemaat mengalami kesulitan, mereka diingatkan untuk lebih banyak berdoa.
Namun ketika gereja membutuhkan sesuatu—entah pembangunan, proyek pelayanan, atau kebutuhan tertentu—jemaat diingatkan untuk lebih banyak memberi.
Menarik sekali pola ini.
Ketika jemaat susah:
“Berdoalah kepada Tuhan.”
Ketika gereja membutuhkan dana:
“Ayo menabur supaya diberkati.”
Seolah-olah ada rumus rohani yang sangat sederhana:
Masalah jemaat = doa.
Kebutuhan gereja = persembahan.
Tentu saja tidak semua gereja seperti ini. Masih banyak pemimpin rohani yang benar-benar menggembalakan jemaat dengan kasih dan kepedulian.
Namun fenomena ini cukup sering terjadi sehingga menjadi bahan perbincangan di banyak kalangan.
Padahal Alkitab berbicara sangat jelas tentang kepedulian.
“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”
(1 Yohanes 3:17)
Ayat ini sederhana tetapi sangat tajam.
Kasih tidak hanya diucapkan dalam doa atau khotbah.
Kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Apalagi bagi seorang pemimpin rohani yang dipanggil untuk menggembalakan umat Tuhan.
Alkitab berkata:
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu… dan jadilah teladan bagi kawanan domba itu.”
(1 Petrus 5:2–3)
Seorang gembala bukan hanya pandai berbicara tentang iman, tetapi juga memberi contoh melalui kehidupan.
Sebab iman yang sejati tidak hanya terdengar dari mimbar.
Iman yang sejati terlihat dari kehidupan sehari-hari.
Karena pada akhirnya jemaat tidak hanya mendengar khotbah.
Mereka juga melihat kehidupan orang yang berkhotbah.
Dan seringkali, kehidupan itulah yang berbicara paling keras.
Ev. Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas)
S.H., S.Th., M.Pd.K







