Filadelfianews.com Shalom Saudara-saudaraku yang terkasih,
Kiranya kita semua tetap setia menjadi pelaku Firman dengan hati yang tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih. Tuhan Yesus semakin memberkati kita dengan hikmat dan segala kelimpahan-Nya. Amin.
Tidak semua pengkhotbah adalah gembala.
Tidak semua pemimpin gereja memiliki hati seorang gembala.
Sama seperti tidak semua dosen ekonomi adalah pelaku bisnis yang berhasil, demikian juga tidak semua pelayan Tuhan memiliki hati yang menggembalakan. Namun Tuhan tidak pernah menurunkan standar-Nya. Ia memanggil setiap kita—apa pun posisi kita—untuk memiliki hati seorang gembala.
Dalam Yehezkiel 34:15–16, Firman Tuhan lahir di tengah krisis kepemimpinan rohani. Para pemimpin Israel gagal: mereka menggembalakan diri sendiri, tidak mencari yang hilang, tidak menguatkan yang lemah, bahkan menindas umat.
Di tengah kegagalan itu, Tuhan menyatakan:
“Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku.”
Ini bukan sekadar janji, tetapi pewahyuan hati Tuhan.
Ia adalah Gembala sejati.
Nubuat ini digenapi dalam Yesus Kristus yang berkata:
“Akulah Gembala yang baik… Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” (Yohanes 10:14–15)
Karena itu, kita dipanggil menjadi pemimpin yang berhati gembala:
1. Mencari yang Terhilang
Hati gembala tidak pernah puas hanya dengan yang sudah ada di dalam.
Ia memiliki belas kasihan yang aktif.
Seperti dalam Lukas 15, ada sukacita di sorga karena satu jiwa yang kembali.
Pemimpin berhati gembala tidak menghakimi yang jatuh—ia mengejar dengan kasih.
2. Menyembuhkan yang Terluka
Banyak orang percaya sudah diselamatkan, tetapi belum dipulihkan.
Mereka hidup dalam luka, trauma, dan identitas yang salah.
Firman Tuhan berkata:
“Kita lebih dari pada orang-orang yang menang.” (Roma 8:37)
Gembala sejati bukan hanya menghibur, tetapi menuntun kepada kebenaran.
Kasih menyembuhkan, kebenaran membebaskan.
3. Mendisiplin yang Menyimpang
Disiplin adalah bagian dari kasih Tuhan.
Ibrani 12:6-7 berkata bahwa Tuhan menghajar yang dikasihi-Nya.
Tanpa disiplin, gereja menjadi lemah.
Dengan disiplin yang benar, karakter dibentuk dan kekudusan dijaga.
Menjadi pemimpin berhati gembala bukan soal jabatan, tetapi soal hati.
Tuhan tidak mencari pelayan yang sekadar sibuk, tetapi gembala yang setia.
Kabar baiknya:
Sang Gembala Agung bukan hanya memanggil, tetapi juga memperlengkapi dan menyempurnakan kita.
Kiranya kita tidak hanya melayani, tetapi menggembalakan.
Tidak hanya aktif, tetapi serupa dengan hati-Nya.
Tuhan memberkati kita semua.
GBU.
— Ps. Welly Massie








