Ketika Rasa Aman Dikhianati: Wajah Buram Pengasuhan yang Diperdagangkan
Filadelfianews.com – Apa jadinya jika tempat yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber luka?
Kasus kekerasan balita di sebuah daycare di Yogyakarta bukan sekadar kabar memilukan—ini adalah potret telanjang dari kegagalan moral dan sistemik yang kita biarkan tumbuh diam-diam. Rekaman CCTV yang beredar bukan hanya memperlihatkan tindakan tidak manusiawi, tetapi juga membongkar satu hal yang lebih mengerikan: kekerasan itu terjadi dalam rutinitas, bukan dalam kekhilafan.
Di balik dinding yang seharusnya menghadirkan rasa aman, anak-anak justru kehilangan hak paling dasar—diperlakukan sebagai manusia. Mereka dibatasi, diabaikan, bahkan diperlakukan seperti barang yang harus “diatur” agar efisien. Ini bukan pengasuhan. Ini pengendalian. Ini dehumanisasi.
Yang membuatnya lebih menggigit adalah motif di baliknya: uang.
Ketika jumlah anak dijadikan angka produksi, dan pengasuh dipaksa menangani di luar batas kewajaran, maka yang lahir bukan layanan—melainkan industri pengabaian. Anak-anak berubah menjadi komoditas. Tangisan mereka bukan sinyal empati, melainkan gangguan operasional.
Di titik ini, kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat “oknum”. Karena yang terjadi bukan satu-dua pelaku, melainkan ekosistem yang membiarkan itu terjadi. Pertanyaannya: di mana pengawasan? Di mana standar kelayakan? Dan lebih penting lagi—mengapa tempat tanpa izin bisa tetap beroperasi tanpa tersentuh?
Kita sedang berhadapan dengan kegagalan berlapis. Regulasi yang tumpul. Pengawasan yang longgar. Dan kepercayaan orang tua yang dimanfaatkan tanpa rasa bersalah.
Namun, luka terdalam tidak terlihat di layar CCTV.
Ia tertanam dalam ingatan anak-anak yang belum mampu mengungkapkan trauma mereka dengan kata-kata. Ketakutan yang diam. Rasa tidak aman yang membekas. Dunia yang seharusnya mereka kenal sebagai tempat yang ramah—berubah menjadi sesuatu yang harus diwaspadai.
Ini bukan hanya tentang menghukum pelaku. Jika kita berhenti di sana, kita hanya menyentuh permukaan.
Yang dibutuhkan adalah perombakan menyeluruh: standar yang tegas, pengawasan yang aktif, transparansi yang tidak bisa ditawar, dan kesadaran kolektif bahwa anak bukan objek jasa, melainkan subjek yang harus dilindungi.
Karena ukuran peradaban bukan terletak pada gedung tinggi atau teknologi canggih.
Tetapi pada satu hal sederhana:
apakah anak-anak kita benar-benar aman—atau hanya terlihat aman?
(rt / rgy)
Editor: Tim Redaksi








