Yogyakarta,22 April 2026— Pdt. Soleman Samuel, seorang pendeta dan pelayan Tuhan yang aktif dalam pelayanan gereja dan misi sosial, menyampaikan refleksi teologis mengenai fenomena yang ia sebut sebagai “paradoks teologi dan mujizat” dalam kehidupan kekristenan masa kini.
Istilah paradoks sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu para (di luar/bertentangan) dan doxa (pendapat atau keyakinan umum). Secara etimologis, paradoks menggambarkan suatu kenyataan yang tampak bertentangan, namun sebenarnya mengandung kebenaran yang lebih dalam.
Dalam pernyataannya, Pdt. Soleman Samuel menyoroti adanya dua kecenderungan yang tampak berlawanan. Di satu sisi, terdapat orang-orang percaya yang memiliki pemahaman teologi yang mendalam, namun kurang mengalami keintiman dengan Tuhan dan manifestasi kuasa-Nya. Di sisi lain, ada pula mereka yang mengalami mujizat dan hadirat Tuhan secara nyata, tetapi tidak memiliki dasar teologi yang kuat.
“Paradoks ini tidak seharusnya terjadi dalam kehidupan orang percaya. Tuhan tidak pernah merancang kita untuk memilih antara kebenaran atau kuasa, melainkan hidup dalam keduanya,” ujar Pdt. Soleman Samuel.
Ia menegaskan bahwa Alkitab justru menunjukkan keseimbangan yang utuh antara pengajaran Firman dan pekerjaan Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul 2:42-43, jemaat mula-mula digambarkan sebagai komunitas yang tekun dalam pengajaran rasul-rasul sekaligus mengalami tanda-tanda dan mujizat. Hal ini menjadi model ideal bagi gereja sepanjang zaman.
Lebih dari itu, Pdt. Soleman Samuel menekankan bahwa gereja pada hakikatnya dipanggil untuk bermisi. Keseimbangan antara teologi dan kuasa bukan hanya untuk pertumbuhan internal, tetapi untuk menjangkau dunia.
“Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 menegaskan bahwa gereja harus pergi, menjadikan semua bangsa murid, dan mengajar mereka. Sementara itu, Markus 16:17-18 menunjukkan bahwa pemberitaan Injil disertai dengan tanda-tanda kuasa. Artinya, misi gereja selalu membawa kebenaran dan kuasa secara bersamaan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa penyertaan Tuhan berkaitan erat dengan ketaatan gereja dalam menjalankan Amanat Agung.
“Hanya gereja yang melaksanakan Amanat Agung yang mengalami penyertaan Tuhan secara nyata. Dalam Matius 28:19-20, perintah untuk pergi diikuti dengan janji: ‘Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’ Penyertaan itu melekat pada gereja yang bergerak dalam misi,” tegas Pdt. Soleman Samuel.
Rasul Paulus juga menegaskan dalam 1 Korintus 2:4-5 bahwa pelayanannya disertai dengan kuasa Roh, bukan hanya hikmat manusia, sementara dalam 2 Timotius 2:15 ia menasihatkan pentingnya ketepatan dalam mengajarkan Firman.
Lebih lanjut, Yesus sendiri mengajarkan bahwa penyembahan yang benar adalah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24), yang menunjukkan bahwa kehidupan rohani yang sehat tidak dapat dipisahkan antara dimensi teologis dan pengalaman spiritual.
Melalui pelayanannya di Yayasan Rumah Buah Hati dan pengembangan komunitas berbasis misi, Pdt. Soleman Samuel terus mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya memahami Firman Tuhan secara mendalam, tetapi juga hidup dalam kuasa dan kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus, serta memiliki hati untuk menjangkau jiwa-jiwa.
“Kita rindu melihat gereja yang tidak hanya kuat ke dalam, tetapi juga berdampak ke luar—gereja yang bermisi, memberitakan Injil, dan menjadi jawaban bagi dunia,” tambahnya.
Pendekatan ini diharapkan menjadi fondasi dalam membangun komunitas yang mandiri, dewasa secara rohani, dan berdampak bagi masyarakat luas.
Tentang Pdt. Soleman Samuel
Pdt. Soleman Samuel adalah seorang pendeta yang aktif dalam pelayanan gereja dan misi sosial, serta terlibat dalam pengembangan Panti Asuhan Rumah Buah Hati di Yogyakarta. Ia memiliki visi untuk membangun komunitas mandiri berbasis iman melalui penginjilan, pemuridan, dan pelayanan kasih.
Kontak 081328198556








