BELAJAR MENGAKUI SALAH
Banyak orang merasa sangat sulit untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Lebih mudah menyalahkan keadaan, situasi, bahkan orang lain. Ada pula yang berusaha menutupi kesalahan dan mencari berbagai alasan untuk membela diri.
Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, hal ini sudah terlihat. Adam dan Hawa tidak langsung mengakui kesalahan mereka, melainkan saling melempar tanggung jawab.
Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu:
“Apakah yang telah kauperbuat ini?”
Jawab perempuan itu:
“Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
Kejadian 3:13
Sikap ini masih sering kita temui hingga hari ini.
Seorang anak menangis keras sambil memarahi temannya. Ternyata ia baru saja terjatuh saat berlari menuruni tangga karena tidak melihat tas yang tergeletak. Guru mencoba menenangkan dan menasihatinya agar tidak berlari di tangga. Namun bukannya menerima, anak itu justru terus menyalahkan pemilik tas sebagai penyebab ia jatuh.
Betapa mudahnya kita melihat kesalahan orang lain, dan betapa sulitnya mengakui kesalahan diri sendiri.
Yesus juga menegur sikap ini dalam ajaran-Nya. Banyak orang, termasuk ahli Taurat dan orang Farisi, gemar menghakimi dan menilai orang lain, merasa diri paling benar dan paling tahu, padahal tidak demikian adanya.
Yesus menggambarkan mereka seperti orang buta yang menuntun orang buta, bahkan menyebut mereka munafik.
Ia berkata dengan tegas:
“Hai orang munafik, keluarkanlah terlebih dahulu balok dari matamu, maka kamu akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Matius 7:5
Pertanyaannya bagi kita hari ini:
Seberapa mudah kita menghakimi orang lain?
Seberapa sering kita menilai tanpa terlebih dahulu bercermin pada diri sendiri?
Saat kita hendak mengucapkan kata-kata penghakiman atau celaan, berhentilah sejenak.
Belajarlah untuk merendahkan hati.
Mintalah kepada Tuhan agar Ia sendiri yang menunjukkan:
- dosa yang perlu kita akui,
- kebiasaan buruk yang perlu kita tinggalkan,
- dan sikap hati yang perlu diperbaiki.
Daripada meminta Tuhan mengubah orang lain, mulailah dengan meminta Tuhan mengubah diri kita terlebih dahulu.
ORANG YANG RENDAH HATI TIDAK MUDAH MENGHAKIMI,
TETAPI MUDAH MENGAKUI KESALAHAN DIRI.
“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”
Lukas 6:41
Selamat berkarya dalam perkenan-Nya.
STAY IN GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias.
Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya sehingga terobosan ilahi, jalan keluar ilahi, penyelesaian ilahi dan pelipatgandaan ilahi dinyatakan dalam seluruh area kehidupan kita.
Abah Daniel








