FiladelfiaNews.com Saya pernah ada di titik ini—
satu hari kacau, lalu diam-diam mulai menyalahkan Tuhan.
Tidak diucapkan keras, tapi terasa dalam hati:
“Tuhan, kenapa hidup saya begini?”
Padahal kalau jujur…
bukan hidup saya yang hancur,
saya saja yang sedang kecewa.
Kita Terlalu Cepat Menghakimi
Hanya karena:
- satu doa belum dijawab
- satu rencana gagal
- satu hari terasa berat
kita langsung menarik kesimpulan besar:
“Tuhan tidak adil. Hidup saya buruk.”
Padahal firman Tuhan tidak pernah menjanjikan hari tanpa masalah.
Yang dijanjikan adalah penyertaan.
Roma 8:28
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”
Perhatikan: “segala sesuatu”—bukan hanya yang enak, tapi juga yang menyakitkan.
Masalahnya: Kita Mengira Tuhan Harus Selalu Menyenangkan Kita
Kita ingin Tuhan:
- meluruskan semua jalan
- menghindarkan dari kegagalan
- menjawab doa tepat waktu
Ketika itu tidak terjadi, kita kecewa.
Bukan karena Tuhan salah,
tapi karena ekspektasi kita tidak sesuai dengan cara kerja-Nya.
Yesaya 55:8-9
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku…”
Ayat ini keras—tapi jujur.
Tuhan tidak bekerja mengikuti perasaan kita.
Kesaksian: Dari Menyalahkan Tuhan, Menyadari Diri Sendiri
Hari itu saya merasa doa saya sia-sia.
Semua yang saya harapkan tidak terjadi. Bahkan sebaliknya—justru keadaan makin sulit.
Saya kecewa. Saya lelah.
Dan saya mulai menjauh secara hati.
Tapi di tengah itu, saya disadarkan:
Saya sedang menilai Tuhan dari satu hari.
Saya lupa bahwa:
- Tuhan sudah menolong saya berkali-kali
- Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan saya
- dan satu hari buruk tidak pernah membatalkan rencana-Nya
Ratapan 3:22-23
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi…”
Bukan kadang-kadang baru.
Tapi setiap pagi.
Kita Bukan Sedang Ditinggalkan, Kita Sedang Dibentuk
Ini bagian yang paling sulit diterima.
Hari buruk bukan selalu hukuman.
Sering kali justru proses.
- Proses merendahkan hati
- Proses melatih iman
- Proses membuat kita bergantung, bukan sombong
Yakobus 1:2-3
“Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan…”
Ayat ini tidak mudah diterima secara logika.
Tapi sangat benar secara iman.
Karena iman tidak dibangun saat semuanya mudah.
Tamparan Rohani yang Jujur
Kalau hari ini kamu merasa hidupmu buruk, coba tanya diri sendiri:
Apakah benar Tuhan meninggalkanmu?
Atau kamu yang sedang melihat hidup hanya dari rasa kecewa?
Jangan sampai kita:
- lebih percaya perasaan daripada firman
- lebih fokus pada masalah daripada janji Tuhan
Tuhan Tidak Pernah Gagal, Kita yang Terlalu Cepat Menyimpulkan
Satu hari buruk bukan bukti Tuhan tidak bekerja.
Bisa jadi justru hari itu adalah bagian dari cara Tuhan menyusun sesuatu yang lebih besar—yang belum kamu pahami sekarang.
Amsal 3:5-6
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu… Ia akan meluruskan jalanmu.”
Bukan kamu yang meluruskan jalan.
Tuhan.
Tugasmu bukan mengerti semuanya.
Tugasmu percaya—meski hari ini tidak sesuai harapan.
Jangan menuduh Tuhan hanya karena satu hari tidak berjalan sesuai maumu.
Bisa jadi hari itu bukan kegagalan, tapi cara Tuhan menyelamatkanmu dari sesuatu yang tidak kamu lihat.
Diceritakan oleh TAN kepada Redaksi


