Bantul, Yogyakarta — Suasana penuh kekhidmatan dan sukacita rohani menyelimuti Gereja Siloam Injili Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, dalam ibadah pentahbisan pendeta yang berlangsung dengan nuansa sakral dan mendalam.
Momentum ini tidak sekadar seremoni gerejawi, melainkan sebuah peneguhan panggilan ilahi yang ditegaskan melalui pesan-pesan profetik yang menggugah kesadaran spiritual jemaat dan para pelayan Tuhan yang hadir.
Ibadah dipimpin oleh Ketua Sinode Gereja Siloam Injili Pusat Medan, Pdt. Partogi Pasaribu, S.Th., M.Pd.K., serta dihadiri para pendeta lintas denominasi se-Kabupaten Bantul dan perwakilan dari Departemen Agama Kabupaten Bantul.
Dalam khotbah yang berangkat dari Roma 6:1–14, Pdt. Partogi menyampaikan peringatan keras sekaligus reflektif tentang kondisi pelayanan gereja masa kini.
“Tuhan tidak sedang mencari pendeta yang sekadar dikenal, tetapi pendeta yang benar-benar mati terhadap dosa. Gereja bisa ramai, tetapi tanpa kekudusan, itu hanyalah keramaian yang kosong dari hadirat Tuhan.”
Pesan tersebut diperkuat dengan peringatan spiritual yang menohok:
“Ketika mimbar kehilangan kekudusan, gereja akan kehilangan kuasa. Dan saat hamba Tuhan berkompromi, jemaat akan kehilangan arah.”
Ia juga menegaskan bahwa pentahbisan bukanlah simbol kehormatan, melainkan panggilan pengorbanan total:
“Hari ini engkau ditahbiskan—artinya hidupmu bukan lagi milikmu sendiri, melainkan sepenuhnya milik Tuhan.”
Dalam ibadah tersebut, dua hamba Tuhan resmi ditahbiskan sebagai pendeta:
- Pdt. Jupri Aryanto
- Pdt. Y. Andi Jatmiko, S.E., M.Th.
Dalam sambutannya, Pdt. Jupri Aryanto menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelayanan ini.
“Kami percaya, ini bukan sekadar peristiwa, melainkan bagian dari rencana besar Tuhan. Apa yang Tuhan mulai di Banguntapan, Ia sendiri yang akan menyelesaikannya.”
Ia juga menyoroti perkembangan pelayanan yang signifikan di wilayah tersebut:
“Saat ini telah berdiri tiga jemaat Gereja Siloam Injili di Banguntapan. Ini bukan hanya pertumbuhan jumlah, tetapi tanda bahwa Tuhan sedang bekerja membangun umat-Nya.”
Ibadah pentahbisan ini juga menjadi ruang peneguhan visi kebangunan rohani:
“Tuhan sedang membangkitkan generasi hamba Tuhan yang berani membayar harga, tidak berkompromi dengan dosa, dan tidak mencari kemuliaan diri. Inilah waktunya gereja berdiri dalam kuasa dan kebenaran.”
Lebih dari sekadar agenda internal gereja, acara ini mencerminkan upaya memperkuat kesatuan tubuh Kristus di Kabupaten Bantul, sekaligus memperluas dampak pelayanan Injil di tengah masyarakat.
Jurnalis: Romo Kefas
Sumber: Doel Sulaiman
Informasi lebih lanjut:
Gereja Siloam Injili Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta


