Gebrakan Festival Pendidikan Kristen Bogor! 350 Pelajar Tampil Total, Iman dan Bakat Jadi Sorotan
Bogor, 17 April 2026 — Sekolah Tunas Harapan mendadak jadi pusat perhatian. Festival Pendidikan Kristen ke-3 Kota Bogor bukan hanya ramai, tapi menghadirkan “gebrakan” nyata dari 350 pelajar yang tampil total membawa bakat sekaligus nilai iman.
Sejak pembukaan, suasana langsung terasa “hidup”. Panggung demi panggung diisi penampilan yang berani, kreatif, dan penuh makna. Dari peserta tingkat SD hingga SMK, semuanya menunjukkan satu pesan yang sama: generasi muda siap unjuk diri.
Acara dibuka oleh Kepala Kemenag Kota Bogor, H. Mahmudi Affan Rangkuti, S.Pd.I., M.E.I., yang menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya.
“Ilmu tanpa nilai akan rapuh. Iman harus tetap jadi fondasi,” tegasnya di hadapan peserta dan undangan.
Didampingi Pembimas Kristen Kota Bogor, Heppy Sat Januari Siahaan, S.Th, festival ini dinilai sebagai bentuk nyata perubahan pendekatan pendidikan agama—lebih terbuka, ekspresif, dan dekat dengan generasi muda.
Ketua Panitia, Sunaryo, S.Th., M.Pd.K, menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting.
“Ini bukan sekadar lomba. Ini panggung pembuktian bahwa anak-anak kita punya potensi besar ketika diberi ruang,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari:
- Jony Parhusip, M.Pd.K
- Dr. Leo Fransisco, M.Pd
Enam cabang lomba menjadi daya tarik utama:
- Story Telling (Cerita Bergambar)
- Menggambar
- Tari Kreasi
- Pendeta Cilik
- Menyanyi Solo
- Cerdas Cermat Alkitab
Kategori Pendeta Cilik menjadi salah satu yang paling menyita perhatian, memperlihatkan keberanian anak-anak menyampaikan pesan iman di depan publik. Sementara Tari Kreasi dan Menyanyi Solo menghadirkan nuansa seni yang kuat, dan Cerdas Cermat Alkitab menunjukkan ketajaman berpikir peserta.
Yang membuat festival ini berbeda adalah energinya—bukan sekadar kompetisi, tetapi gerakan kolektif membangun generasi berkarakter.
Di tengah kekhawatiran banyak pihak terhadap arah generasi muda, Festival Pendidikan Kristen Kota Bogor justru menghadirkan gambaran sebaliknya: anak-anak yang berani, percaya diri, dan punya nilai hidup yang jelas.
Jika konsisten digelar, bukan tidak mungkin kegiatan ini akan menjadi salah satu ikon pendidikan berbasis karakter di tingkat daerah—bahkan nasional.
Jurnalis: Atma
Editor: Tim Redaksi


