Diceritakan oleh: Ibu Mei (58), BSD – Tangerang Selatan
Disunting oleh: (rt / rgy)
Pendahuluan: Warisan Iman yang Tak Tergantikan
Setiap keluarga memiliki satu sosok yang menjadi jangkar rohani—diam, namun menentukan arah. Dalam keluarga kami, sosok itu adalah Oma Elisa.
Sejak saya kecil hingga dewasa, bahkan setelah berumah tangga, satu hal tidak pernah berubah: Oma hidup dalam iman yang nyata. Iman yang tidak hanya terdengar dalam kata-kata, tetapi terlihat dalam keseharian—dalam kesabaran, ketekunan, dan doa yang tidak pernah putus.
Ia tidak banyak berbicara tentang teologi, tetapi hidupnya adalah kesaksian.
“Orang benar akan hidup oleh iman.” — Habakuk 2:4
Masa Kecil: Kasih yang Menembus Keterbatasan
Saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar, Oma tinggal di Bandung, sementara kami berada di desa di Jawa Tengah. Saya dan kakak rutin mengirim surat, menanyakan kabarnya.
Namun kami baru tahu kemudian—Oma tidak bisa membaca dan menulis.
Setiap surat kami dibacakan orang lain. Setiap balasan yang kami terima pun adalah hasil dikte—kata-kata yang keluar dari hatinya, dituliskan oleh tangan orang lain.
Anehnya, kami tidak pernah merasa kekurangan.
Surat-surat itu tetap hangat. Tetap penuh kasih. Tetap terasa seperti pelukan.
Oma mengajarkan satu hal sejak dini: kasih tidak pernah dibatasi oleh kemampuan.
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati.” — 1 Korintus 13:4
Keseharian yang Memuliakan Tuhan
Oma Elisa adalah ibu dari sembilan anak, nenek bagi puluhan cucu. Namun di tengah besarnya tanggung jawab, ia tetap menjalani hidup dengan keindahan yang sederhana.
Ia selalu tampil rapi—kebaya encim, sarung bermotif pecinan, rambut disanggul rapi. Ada keanggunan dalam kesederhanaannya.
Di dapur, ia seperti seniman. Setiap masakan bukan sekadar makanan, tetapi wujud kasih yang bisa dirasakan.
Bahkan dalam hal kecil seperti memilih kain kebaya, ia melibatkan saya. Seolah ingin mengajarkan bahwa setiap detail hidup layak dikerjakan dengan hati.
Oma tidak pernah berkhotbah panjang. Tetapi hidupnya berkata:
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.” — Kolose 3:23
Tinggal Bersama: Menyaksikan Iman yang Hidup
Ketika SMA, saya tinggal bersama Oma selama tiga tahun. Di sanalah saya benar-benar melihat siapa dia—bukan hanya sebagai nenek, tetapi sebagai pribadi yang hidup dalam Tuhan.
Usianya tidak muda lagi, tetapi semangatnya seperti tidak mengenal lelah:
- Pagi-pagi ke pasar
- Memasak untuk keluarga
- Naik turun tangga menjemur pakaian
Namun yang paling membekas bukan aktivitasnya, melainkan kehidupan doanya.
1. Doa yang Menjadi Nafas Hidup
Setiap malam, Oma berlutut di samping tempat tidurnya.
Ia berdoa dengan suara yang jelas—tidak tergesa, tidak sekadar formalitas. Kadang lebih dari dua menit, penuh kesungguhan.
Yang membuat saya tertegun: ia menyebut satu per satu nama anak, menantu, hingga cucu-cucunya—tanpa pernah lupa.
Di situlah saya mengerti: bagi Oma, doa bukan rutinitas. Doa adalah kehidupan itu sendiri.
“Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” — Yakobus 5:16
2. Iman yang Tidak Goyah dalam Penderitaan
Ketika lututnya sakit, Oma tidak mengeluh.
Ia duduk tenang, mengelus lututnya, lalu mulai memuji Tuhan. Setelah itu ia berdoa dengan sederhana, namun penuh iman:
“Dalam Nama Yesus, sembuh.”
Tidak ada kepanikan. Tidak ada keraguan. Hanya iman yang teguh.
Ia percaya bahwa kesembuhan bukan hanya soal obat, tetapi tentang siapa yang ia percayai.
“Sebab Aku ini Tuhan yang menyembuhkan engkau.” — Keluaran 15:26
Pelajaran Hidup: Warisan yang Tidak Akan Pernah Hilang
Banyak nasihat Oma baru saya pahami ketika saya dewasa—tentang menjadi istri, menjadi ibu, dan menjalani hidup dengan hati yang benar.
Kini saya mengerti:
Kekuatan Oma bukan berasal dari fisiknya, tetapi dari imannya.
Ia hidup dengan:
- hati yang selalu bersyukur
- semangat yang tidak pernah padam
- doa yang tidak pernah berhenti
- iman yang nyata dalam tindakan
Ia tidak terkenal. Tidak tercatat dalam buku sejarah.
Namun bagi kami, ia adalah fondasi.
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” — Yosua 24:15
Penutup: Doa yang Tetap Hidup
Oma Elisa telah pulang ke rumah Bapa.
Namun doanya belum berhenti—ia hidup dalam setiap langkah kami. Dalam setiap keputusan. Dalam setiap iman yang kami pegang hari ini.
Ia mungkin telah tiada secara fisik, tetapi warisannya tetap nyata: iman yang sederhana, namun kokoh.
Terima kasih, Tuhan, untuk Oma Elisa—
seorang perempuan tangguh yang tidak hanya hidup…
tetapi hidup dari doa.


