Filadelfianews.com Perumpamaan yang disampaikan oleh Yeshua/Yesus dalam Lukas 15:11–32 sering dikenal sebagai kisah anak yang hilang. Biasanya perhatian kita langsung tertuju pada anak bungsu yang meninggalkan rumah ayahnya. Namun jika kita memperhatikan lebih dalam, sebenarnya kisah ini berbicara tentang dua anak yang sama-sama hilang, hanya dengan cara yang berbeda.
Anak bungsu jelas terlihat tersesat. Ia meminta warisan dari ayahnya, pergi jauh dari rumah, lalu menghabiskan semuanya dalam kehidupan yang penuh kesenangan dunia. Ketika hartanya habis dan hidupnya hancur, barulah ia sadar. Ia menyesali perbuatannya dan memutuskan untuk pulang kepada ayahnya. Yang indah dari kisah ini adalah bagaimana sang ayah menyambutnya dengan penuh kasih, tanpa mengungkit masa lalunya.
Namun ada tokoh lain yang sering tidak diperhatikan, yaitu anak sulung. Ia tidak pernah meninggalkan rumah, tetapi hatinya jauh dari ayahnya. Ketika melihat adiknya disambut dengan sukacita, ia menjadi marah, iri hati, dan tidak mau mengampuni. Ia merasa dirinya lebih benar dan lebih layak daripada adiknya.
Di sinilah pelajaran yang sangat dalam. Anak bungsu menggambarkan orang yang jatuh dalam dosa yang terlihat jelas, tetapi akhirnya sadar dan bertobat. Sedangkan anak sulung menggambarkan orang yang tampaknya benar, tetapi hatinya dipenuhi kepahitan, iri hati, dan kesombongan rohani.
Sering kali kita mudah melihat dosa seperti yang dilakukan anak bungsu. Tetapi dosa seperti yang ada pada anak sulung sering tersembunyi di dalam hati—dosa merasa diri lebih benar, tidak mau mengampuni, dan suka menghakimi orang lain.
Karena itu kita perlu memeriksa hati kita. Jangan sampai kita terlihat dekat dengan Bapa, tetapi hati kita sebenarnya jauh dari-Nya. Sebaliknya, marilah kita menjadi seperti anak bungsu yang mau merendahkan diri, bertobat, dan kembali kepada Bapa.
Sebab di rumah Bapa selalu tersedia kasih, pengampunan, dan pemulihan bagi setiap orang yang mau datang kembali.
“Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira, sebab adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali; ia telah hilang dan didapat kembali.”
(Lukas 15:31–32)
(rt/rgy)









