“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga.”
(2 Korintus 9:6)
Filadelfianews.com Kita hidup di zaman yang aneh. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter. Media sosial dipenuhi kata-kata inspiratif tentang kesetiaan, tetapi dunia nyata dipenuhi janji yang mudah diucapkan dan lebih mudah lagi dilupakan.
Hari ini seseorang bisa berkata, “Saya siap melayani.” Besok ia menghilang tanpa kabar.
Hari ini seseorang berjanji akan mendukung. Ketika keadaan berubah, ia menjadi orang pertama yang pergi.
Janji seolah menjadi alat untuk menarik simpati, bukan lagi komitmen yang harus dipertanggungjawabkan.
Padahal di mata Tuhan, perkataan bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut. Perkataan adalah cerminan isi hati.
Allah yang Tidak Pernah Mengingkari Firman-Nya
Salah satu alasan terbesar mengapa orang percaya dapat hidup dengan pengharapan adalah karena Allah tidak pernah gagal menepati apa yang telah difirmankan-Nya.
Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak membatalkan rencana keselamatan. Ia tetap setia pada janji-Nya. Janji itu mencapai puncaknya ketika Yesus Kristus datang ke dunia, mati di kayu salib, dan bangkit untuk menebus manusia.
Keselamatan bukan lahir dari kemampuan manusia memegang janji kepada Tuhan, tetapi dari kesetiaan Tuhan memegang janji-Nya kepada manusia.
Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk memantulkan karakter Allah melalui hidupnya. Salah satu bentuknya adalah hidup dengan integritas.
Integritas bukan berarti tidak pernah gagal.
Integritas berarti berani bertanggung jawab ketika gagal dan tetap memilih kebenaran ketika kebohongan tampak lebih menguntungkan.
Tabur dan Tuai Bukan Sekadar Soal Uang
Sayangnya, banyak orang membaca 2 Korintus 9 hanya sebagai rumus ekonomi rohani: memberi banyak supaya mendapat banyak.
Padahal Rasul Paulus sedang berbicara tentang hati yang telah disentuh oleh kasih karunia. Memberi bukanlah cara membeli berkat Allah, tetapi respons syukur karena Allah telah lebih dahulu memberi.
Prinsip tabur dan tuai jauh lebih luas daripada persoalan materi.
Setiap kata yang kita ucapkan adalah benih.
Setiap keputusan yang kita ambil adalah benih.
Setiap janji yang kita buat adalah benih.
Dan setiap benih akan menghasilkan buah sesuai dengan jenisnya.
Jika kita menabur kejujuran, kita menuai kepercayaan.
Jika kita menabur kesetiaan, kita menuai penghormatan.
Jika kita menabur kepalsuan, kita menuai kecurigaan.
Allah tidak dapat dipermainkan. Apa yang ditabur, itulah yang akan tumbuh.
Janji Bukan untuk Didengar, tetapi untuk Dihidupi
Ada orang yang begitu mudah berkata, “Saya akan selalu ada.”
Namun ketika kesulitan datang, ia menghilang.
Ada yang berjanji setia melayani Tuhan seumur hidup, tetapi menyerah ketika pelayanan tidak lagi memberi kenyamanan.
Ada yang mengaku mengasihi sesama, tetapi tidak sanggup menghargai orang-orang yang telah berjuang bersamanya.
Masalahnya bukan pada kemampuan berbicara.
Masalahnya adalah ketidakmauan membayar harga dari sebuah komitmen.
Janji tanpa tindakan hanyalah suara.
Integritas mengubah suara itu menjadi kenyataan.
Menghargai Jerih Payah Orang Lain adalah Buah Kerendahan Hati
Salah satu bentuk integritas yang sering diabaikan adalah kemampuan menghargai perjuangan orang lain.
Banyak orang menikmati buah, tetapi lupa siapa yang menanam pohonnya.
Mereka duduk di gedung gereja yang nyaman, tetapi tidak mengenal mereka yang dahulu mengumpulkan batu demi batu sambil berdoa dan berkorban.
Mereka menikmati pelayanan yang tertata, tetapi melupakan para pelayan yang datang lebih awal dan pulang paling akhir.
Mereka menerima berkat dari sebuah pelayanan, tetapi tidak pernah menghargai air mata yang telah dicurahkan di balik layar.
Padahal Yesus berkata,
“Yang seorang menabur dan yang lain menuai.” (Yohanes 4:37)
Kalimat ini mengajarkan bahwa Kerajaan Allah dibangun oleh estafet kesetiaan.
Ada generasi yang menanam.
Ada generasi yang menyiram.
Ada generasi yang menuai.
Tidak ada yang boleh merasa lebih penting dari yang lain.
Sebab tanpa penabur, tidak akan ada tuaian.
Mengambil hasil tanpa menghormati penabur adalah bentuk ketidakadilan.
Mengklaim keberhasilan tanpa mengakui pengorbanan orang lain adalah tanda hati yang belum belajar rendah.
Integritas Terlihat Saat Tidak Ada yang Bertepuk Tangan
Karakter tidak diuji ketika kita berada di atas mimbar.
Karakter diuji ketika kita berada sendirian.
Saat tidak ada kamera.
Saat tidak ada penghargaan.
Saat tidak ada yang tahu apakah kita jujur atau tidak.
Di situlah Tuhan melihat siapa kita sebenarnya.
Integritas adalah memilih tetap benar ketika tidak ada konsekuensi langsung jika kita berbuat salah.
Integritas adalah tetap mengembalikan yang bukan milik kita meskipun tidak ada yang akan mengetahuinya.
Integritas adalah tetap memegang janji meski keadaan sudah berubah dan kita harus menanggung kerugian.
Karena orang yang hidup bagi Tuhan tidak menjadikan keuntungan sebagai ukuran utama, melainkan kesetiaan.
Salib: Bukti bahwa Kasih Allah Memiliki Integritas
Salib adalah pernyataan paling nyata bahwa kasih Allah bukan sekadar ucapan.
Allah tidak hanya berkata bahwa Ia mengasihi dunia.
Ia membuktikannya.
Yesus tidak hanya mengajar tentang pengorbanan.
Ia mengorbankan diri-Nya sendiri.
Inilah integritas ilahi.
Perkataan dan tindakan berjalan seiring.
Kasih dan pengorbanan tidak dipisahkan.
Maka orang percaya dipanggil untuk hidup dengan pola yang sama.
Bukan hanya pandai berjanji melayani, tetapi setia melayani.
Bukan hanya pandai berkata mengasihi, tetapi rela berkorban.
Bukan hanya pandai mengutip firman, tetapi membiarkan firman membentuk hidupnya.
Jangan Menjadi Penikmat Panen yang Melupakan Penabur
Setiap keberhasilan yang kita nikmati hari ini berdiri di atas pengorbanan banyak orang.
Ada doa seorang ibu yang tidak pernah kita dengar.
Ada kerja keras seorang ayah yang tidak pernah kita lihat.
Ada guru yang sabar mengajar.
Ada pemimpin yang rela dibenci demi mendidik.
Ada sahabat yang tetap tinggal ketika semua orang pergi.
Dan di atas semuanya itu, ada anugerah Tuhan yang menopang tanpa henti.
Karena itu, jangan pernah merasa berhasil sendirian.
Orang yang paling dewasa bukanlah yang paling banyak menerima penghormatan, tetapi yang paling tahu berterima kasih.
Pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak janji yang pernah kita buat.
Ia akan melihat berapa banyak yang kita tepati.
Ia tidak akan menghitung seberapa banyak yang kita kumpulkan.
Ia akan melihat seberapa banyak yang kita taburkan.
Ia tidak akan menilai seberapa tinggi kita berdiri.
Ia akan melihat apakah kita rela membungkuk untuk menghargai mereka yang telah berjerih lelah sebelum kita.
Hiduplah dengan integritas, karena itulah bahasa yang paling mudah dipahami dunia.
Hormatilah jerih payah sesama, karena tidak ada panen tanpa penabur.
Dan peganglah setiap janji dengan kesungguhan, sebab setiap kata yang keluar dari mulut orang percaya seharusnya mencerminkan karakter Allah yang tidak pernah ingkar.
Integritas bukan hanya tentang berkata benar. Integritas adalah keberanian untuk hidup sesuai dengan apa yang kita katakan. Dan ketika hidup kita selaras dengan perkataan kita, dunia tidak hanya mendengar Injil dari bibir kita, tetapi melihat Injil melalui kehidupan kita.
“Hendaklah perkataanmu selalu penuh kasih, jangan berdusta, dan ya katakanlah ya, jika tidak katakanlah tidak.”
Soli Deo Gloria.
Penulis Kefas Hervin Devananda SH STh MPdK alias Romo Kefas


