Filadelfianews.com Di tengah kuatnya arus Islam, tradisi kejawen, dan pengaruh kolonial Belanda pada abad ke-19, muncul seorang tokoh pribumi yang kelak mengguncang dunia zending di Jawa. Namanya Kiai Sadrach — seorang penginjil Jawa yang tidak lahir dari sekolah teologi Eropa, melainkan dari pergulatan spiritual panjang khas tanah Nusantara.
Namun sedikit orang tahu, perjalanan Sadrach menuju pengaruh besar itu justru dimulai dari kekecewaan terhadap guru-gurunya sendiri.
Pengembara Ilmu dari Jawa
Sebelum dikenal sebagai Sadrach, ia bernama Radin. Sejak muda, ia menjalani kehidupan sebagai pencari ilmu spiritual. Tradisi “meguru” pada masa itu lazim dilakukan anak-anak muda Jawa yang haus akan kesaktian, kebijaksanaan, dan makna hidup. Dari satu padepokan ke padepokan lain, Radin belajar ilmu kebatinan, agama, hingga filsafat hidup Jawa.
Dalam pengembaraannya, ia sempat tinggal di wilayah Jombang dan Ponorogo. Di sana, ia pertama kali bersentuhan dengan kekristenan melalui seorang zendeling Belanda bernama Jelle Eeljest Jellesma dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).
Menurut sejumlah catatan sejarah zending Jawa, Jellesma dikenal memiliki pendekatan yang cukup terbuka terhadap budaya lokal. Ia pula yang berperan dalam perjalanan iman Ibrahim Tunggul Wulung, seorang tokoh penginjil pribumi terkenal di Jawa Tengah.
Tetapi bagi Radin muda, kekristenan saat itu belum cukup menarik untuk diikuti.
Dari Kauman ke Pergulatan Rohani
Radin kemudian menetap di Kauman Semarang, lingkungan yang dikenal kuat dengan tradisi Islam santri. Di sana ia bahkan menambahkan nama “Abbas” di belakang namanya menjadi Radin Abbas, menunjukkan kedekatannya dengan tradisi Islam Jawa pada masa itu.
Di Semarang pula, takdir mempertemukannya kembali dengan guru lamanya, Sis Kanoman atau Pak Kurmen. Sosok yang dulu dikenalnya sebagai guru kebatinan itu ternyata telah memeluk Kristen.
Perubahan besar pada diri gurunya menimbulkan rasa penasaran. Pak Kurmen kemudian mempertemukan Radin dengan Tunggul Wulung.
Pertemuan itu menjadi titik penting dalam sejarah kekristenan Jawa.
Berbeda dengan misionaris Eropa yang sering tampil dengan budaya Barat, Tunggul Wulung hadir sebagai guru Jawa sejati: berpakaian sederhana, berbicara dengan simbol-simbol lokal, dan mengabarkan Injil menggunakan pendekatan budaya Jawa.
Kekristenan tidak dipaksakan menjadi “agama orang Belanda”, tetapi hadir dalam rasa dan bahasa masyarakat Jawa sendiri.
Menurut berbagai penelitian sejarah gereja Jawa, pendekatan kontekstual inilah yang membuat banyak rakyat kecil lebih mudah menerima Injil.
Adu Ngelmu yang Mengubah Hidup
Radin bukan pribadi yang mudah percaya begitu saja. Dalam tradisi spiritual Jawa saat itu, perdebatan dan adu ngelmu merupakan bagian penting untuk menguji kebenaran.
Berbagai sumber menyebutkan bahwa Radin melakukan dialog panjang dengan Tunggul Wulung mengenai kehidupan rohani, kuasa Allah, hingga makna keselamatan.
Dan hasilnya mengejutkan.
Radin akhirnya menerima iman Kristen dan kemudian dikenal dengan nama Sadrach.
Sejak saat itu, terbentuklah trio penginjil pribumi: Tunggul Wulung, Pak Kurmen, dan Sadrach. Mereka melayani masyarakat pedesaan di wilayah Bondho, Jepara, dengan pendekatan yang sangat dekat dengan budaya rakyat.
Namun persatuan itu ternyata tidak bertahan lama.
Retaknya Kongsi Rohani
Konflik mulai muncul ketika Tunggul Wulung mengambil istri kedua. Dalam budaya Jawa masa itu, poligami memang bukan hal asing, terutama bagi tokoh yang dianggap memiliki kedudukan spiritual.
Tetapi Sadrach mulai memandang persoalan itu secara berbeda.
Pendalaman Alkitab yang dilakukannya membuat ia melihat adanya ketegangan antara ajaran Injil dan praktik kehidupan gurunya sendiri. Ia mulai mempertanyakan integritas rohani dalam pelayanan.
Kekecewaan Sadrach semakin dalam ketika Pak Kurmen jatuh dalam kebiasaan candu opium. Pada masa kolonial, penggunaan opium memang menjadi persoalan sosial besar di Jawa dan banyak menjerat masyarakat dari berbagai lapisan.
Dua figur yang dahulu menjadi teladan rohani baginya perlahan runtuh di hadapannya.
Dan di titik itulah hidup Sadrach berubah.
Wangsit Menuju Purworejo
Dalam tradisi spiritual Jawa, pengalaman batin sering diterjemahkan sebagai wangsit atau tuntunan ilahi. Sadrach mengaku menerima petunjuk untuk meninggalkan Bondho.
Keputusan itu bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi awal lahirnya gerakan Kristen Jawa yang mandiri.
Ia kemudian menuju Purworejo dan mulai membangun komunitas sendiri. Di tangan Sadrach, kekristenan berkembang dengan wajah yang sangat Jawa: memakai istilah-istilah lokal, menghormati budaya masyarakat, namun tetap berpusat pada pengajaran Alkitab.
Pendekatan ini membuat pelayanan Sadrach berkembang pesat. Sejumlah catatan sejarah menyebut pengikutnya mencapai ribuan orang pada akhir abad ke-19 — sebuah angka yang sangat besar untuk gerakan pribumi pada masa itu.
Namun keberhasilan itu juga membuat sebagian zendeling Belanda merasa gelisah.
Sadrach dianggap terlalu “Jawa” oleh sebagian misionaris Barat, tetapi bagi rakyat kecil, justru di situlah kekuatannya.
Iman yang Tumbuh dari Luka
Kisah Kiai Sadrach memperlihatkan bahwa perjalanan rohani tidak selalu lahir dari kenyamanan. Kadang justru kekecewaan terhadap manusia membawa seseorang menemukan panggilan yang lebih besar.
Sadrach meninggalkan gurunya bukan karena membenci mereka, melainkan karena ia sedang mencari kesungguhan iman yang lebih dalam.
Dan dari langkah meninggalkan “kongsi lama” itulah lahir salah satu gerakan Kristen pribumi paling berpengaruh dalam sejarah Jawa.
Referensi Sejarah:
- Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya
- Penelitian sejarah zending Jawa abad ke-19
- Arsip Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG)
- Kajian sejarah gereja pribumi di Jawa Tengah
- Keterangan Gb Menggunakan Teknologi AI
