Filadelfianews.com Setiap kali memperingati Kenaikan Tuhan Yesus, banyak orang hanya memaknainya sebagai peristiwa “Yesus naik ke surga.” Padahal secara teologis, kenaikan Kristus memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perpisahan antara Yesus dan murid-murid-Nya.
Kenaikan Yesus adalah deklarasi kemenangan, peneguhan kemuliaan Kristus, dan awal pemerintahan-Nya sebagai Raja di atas segala raja.
Kisah Para Rasul 1 mencatat bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri selama empat puluh hari kepada murid-murid-Nya. Ia mengajar tentang Kerajaan Allah dan mempersiapkan mereka untuk melanjutkan misi Injil ke seluruh dunia. Setelah itu, di depan mata para murid, Yesus terangkat ke surga.
Bagi sebagian orang, kenaikan Yesus terlihat seperti akhir sebuah kisah. Namun bagi iman Kristen, kenaikan Kristus justru adalah awal dari karya besar Allah bagi dunia.
Yesus naik bukan karena meninggalkan manusia, tetapi karena Ia dimuliakan sebagai Tuhan yang berdaulat atas langit dan bumi.
Dalam teologi Kristen, kenaikan Kristus menegaskan beberapa hal penting.
Pertama, Yesus benar-benar menang atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan.
Jika kebangkitan membuktikan bahwa maut tidak mampu mengalahkan Kristus, maka kenaikan-Nya menyatakan bahwa Yesus sekarang memerintah dalam kemuliaan. Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang berarti posisi otoritas tertinggi.
Artinya, dunia ini tidak berjalan tanpa kendali. Sejarah manusia tidak bergerak secara kebetulan. Kristus tetap memegang pemerintahan atas hidup umat-Nya dan atas seluruh ciptaan.
Kedua, kenaikan Yesus membuka jalan bagi hadirnya Roh Kudus.
Sebelum naik ke surga, Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan datang untuk menghibur, menguatkan, dan memimpin orang percaya. Karena itu kenaikan Kristus tidak boleh dipahami sebagai kehilangan kehadiran Tuhan, melainkan perubahan cara Tuhan hadir bersama umat-Nya.
Dulu Yesus hadir secara fisik di satu tempat tertentu. Kini melalui Roh Kudus, Kristus hadir menyertai semua orang percaya di mana pun mereka berada.
Itulah sebabnya orang Kristen tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Ketiga, kenaikan Yesus memberi pengharapan tentang kemuliaan yang akan datang.
Malaikat berkata kepada murid-murid bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti Ia naik ke surga. Ini menjadi dasar pengharapan eskatologis orang percaya: Kristus akan datang kembali sebagai Raja dan Hakim yang adil.
Karena itu hidup Kristen bukan sekadar tentang menjalani kehidupan dunia, tetapi hidup dengan pengharapan kekal.
Ada pribahasa Jawa yang sangat dalam:
“Urip iku mung mampir ngombe.”
Artinya: Hidup di dunia hanya sementara.
Kenaikan Kristus mengingatkan bahwa dunia ini bukan tujuan akhir manusia. Banyak orang sibuk mengejar kekuasaan, harta, popularitas, dan pengakuan, tetapi lupa bahwa semua itu sementara. Sementara Kristus memanggil umat-Nya untuk hidup dengan orientasi Kerajaan Surga.
Namun sayangnya, banyak orang Kristen hari ini merayakan kenaikan Tuhan Yesus hanya sebagai hari libur tanpa memahami makna rohaninya.
Padahal kenaikan Kristus adalah panggilan bagi gereja untuk hidup dalam misi Allah.
Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan Amanat Agung: memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Artinya, orang percaya dipanggil bukan hanya menjadi penonton iman, tetapi saksi Kristus di tengah dunia.
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat kuat:
“Urip iku urup.”
Artinya: Hidup harus menjadi terang dan membawa manfaat.
Kristus yang naik ke surga memanggil umat-Nya menjadi terang dunia. Gereja tidak boleh hanya sibuk dengan ritual, tetapi harus menghadirkan kasih, keadilan, dan kebenaran Allah di tengah kehidupan.
Kenaikan Yesus bukan cerita tentang Tuhan yang pergi jauh meninggalkan manusia. Sebaliknya, kenaikan Kristus adalah bukti bahwa Ia adalah Raja yang hidup, memerintah, dan tetap bekerja bagi keselamatan umat-Nya.
Karena itu, perayaan Kenaikan Tuhan Yesus seharusnya mengingatkan kita untuk hidup dengan iman, pengharapan, dan keberanian sebagai saksi Kristus di dunia.
Sebab Tuhan yang naik ke surga itu juga Tuhan yang suatu hari akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
alias Romo Kefas
