Filadelfianews.com Hakim-hakim 9:50–57
Ada satu ilusi yang sering dipercaya manusia:
bahwa kejahatan bisa bertahan jika dilakukan dengan cukup rapi, cukup kuat, atau cukup lama.
Namun Alkitab menyatakan sebaliknya:
tidak ada kejahatan yang berada di luar jangkauan keadilan Allah.
Abimelekh: Kekuasaan Tanpa Dasar Kebenaran
Abimelekh membangun kekuasaannya bukan melalui panggilan Allah,
melainkan melalui kekerasan dan ambisi.
Secara lahiriah, ia berhasil.
Ia memimpin, menaklukkan, dan mengendalikan.
Namun secara teologis, sejak awal ia sudah berada dalam posisi yang salah:
ia memerintah tanpa legitimasi dari Allah.
Dan dalam perspektif iman,
apa pun yang tidak berakar pada kehendak Tuhan,
pada akhirnya akan runtuh.
Allah Berdaulat, Sekaligus Adil
Kisah ini menunjukkan dua hal yang tidak boleh dipisahkan:
- Allah berdaulat atas sejarah
- Allah adil dalam penghakiman
Allah tidak kehilangan kendali ketika Abimelekh berkuasa.
Sebaliknya, Ia bekerja melalui rangkaian peristiwa—
bahkan melalui tindakan manusia—
untuk menggenapi keadilan-Nya.
Perempuan yang melempar batu itu bukan kebetulan.
Itu adalah bagian dari cara Allah menyatakan keadilan-Nya.
Dosa Selalu Menghasilkan Konsekuensi
Dalam teologi Alkitab, dosa bukan hanya pelanggaran moral.
Dosa adalah pemberontakan terhadap Allah yang membawa akibat nyata.
- dosa merusak relasi
- dosa memutarbalikkan kebenaran
- dosa membawa kematian
Apa yang dialami Abimelekh bukan sekadar “nasib buruk”,
melainkan konsekuensi yang tidak terelakkan dari hidup yang menolak Allah.
Keadilan Allah Bisa Tertunda, Tetapi Tidak Pernah Dibatalkan
Sering kali manusia bertanya:
mengapa orang jahat tampak berhasil?
Jawaban dari teks ini jelas:
karena waktu penghakiman bukan ditentukan oleh manusia,
melainkan oleh Allah.
Keadilan Allah mungkin tidak langsung terlihat,
tetapi selalu pasti terjadi.
Implikasi bagi Orang Percaya
Bagi orang yang hidup dalam iman, ada dua sikap penting:
- Hidup dalam takut akan Tuhan
Kesadaran bahwa setiap tindakan berada di hadapan Allah. - Tidak iri terhadap keberhasilan orang fasik
Karena keberhasilan tanpa kebenaran bukanlah kemenangan sejati.
Kristus: Jawaban atas Keadilan dan Kasih
Di dalam Perjanjian Baru, kita melihat sesuatu yang lebih dalam:
Keadilan Allah tidak hanya dinyatakan melalui hukuman,
tetapi juga melalui salib Kristus.
Di sana:
- dosa dihukum
- tetapi manusia diberi kesempatan untuk diselamatkan
Artinya, keadilan Allah tidak meniadakan kasih-Nya,
dan kasih-Nya tidak meniadakan keadilan-Nya.
Kisah Abimelekh bukan hanya cerita tentang kehancuran seorang raja,
tetapi peringatan tentang keseriusan dosa dan kepastian keadilan Allah.
Tidak ada kejahatan yang luput dari perhitungan Allah.
Keadilan-Nya mungkin tidak segera terlihat,
tetapi selalu dinyatakan dengan sempurna.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.)








