“Ia Bersaksi, Lalu Pergi…”: Cinta, Iman, dan Perpisahan yang Menguatkan Abraham Ricky Hosada

Spread the love

Jakarta, 24 April 2026  — Tidak ada yang tahu, kesaksian itu akan menjadi yang terakhir.

Minggu sore, 12 April 2026, dimulai seperti hari pelayanan biasa bagi Abraham Ricky Hosada dan sang istri, Jeanny Elisabeth Tuilan. Mereka berangkat bersama menuju gereja GPdI El Uzay. Seperti biasa, Jeanny mengemudi—tenang, terampil, tanpa tanda apa pun bahwa hari itu akan berbeda.

Tidak ada firasat.

Yang ada hanya kesetiaan… untuk melayani.


Di gereja, Jeanny mengambil peran sebagai worship leader. Ibadah berlangsung khidmat hingga tiba pada sesi kesaksian. Ia memberi kesempatan kepada jemaat.

Namun suasana hening.

Tak satu pun maju.

Dengan mikrofon di tangan, ia memilih untuk bersaksi sendiri.

Tentang kebaikan Tuhan.
Tentang iman yang ia jalani.
Tentang kasih yang ia hidupi setiap hari.

Namun di tengah kesaksiannya… tubuhnya tiba-tiba melemah.

Ia merasakan pusing hebat dan segera duduk. Jemaat berusaha memberikan pertolongan pertama, namun kondisinya tidak membaik. Ia dilarikan ke RS Koja, Tanjung Priok.

Hasilnya mengejutkan.

Tekanan darahnya mencapai angka 250. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan pecah pembuluh darah di otak. Rencana rujukan ke Pusat Otak Nasional di Cawang tak sempat terwujud.

Pada Senin, 13 April 2026 pukul 12.15 WIB—Jeanny berpulang.

Ia tidak hanya melayani.

Ia melayani… sampai akhir.


Di balik peristiwa itu, tersimpan perjalanan hidup yang tidak sederhana.

Abraham Ricky Hosada dikenal sebagai aktor laga yang telah lama berkecimpung di industri perfilman nasional. Ia menguasai berbagai bela diri seperti muay thai, kickboxing, taekwondo, dan kungfu.

Namun hidupnya tidak selalu terang.

Ia pernah jatuh dalam masa kelam—hingga akhirnya mengalami titik balik rohani dan memilih hidup dalam iman kepada Kristus.

Dan di sisinya, selalu ada Jeanny.

Perempuan kelahiran Makassar, 2 Desember 1960 itu dikenal lembut, tenang, namun memiliki iman yang kuat. Ia pernah meniti karier sebagai pengajar dan bekerja di dunia perbankan di Jakarta.

Namun ia memilih meninggalkan semuanya.

Bukan karena tidak mampu.

Melainkan karena ia menemukan panggilan hidupnya: melayani Tuhan dan sesama.

Ia melayani tanpa membeda-bedakan.

Bagi Jeanny, semua orang sama—layak dikasihi.


Kini, Ricky harus menghadapi kenyataan yang paling berat dalam hidupnya.

Perempuan yang mendampinginya sejak pernikahan mereka pada 9 Oktober 2002… telah tiada.

“Kalau kehilangan harta masih bisa dicari,” ujarnya lirih,
“tapi kehilangan pasangan hidup… itu luar biasa.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa dalam—karena lahir dari kehilangan yang nyata.


Hari-hari setelah kepergian itu tidak mudah.

Air mata datang tanpa diundang. Kenangan hadir di setiap sudut. Sepi terasa lebih panjang dari biasanya.

Namun di tengah luka, Ricky memilih tetap berdiri dalam iman.

Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah keliru.

Bahwa bahkan dalam kehilangan, tetap ada rencana yang baik—meski tidak selalu dapat dipahami manusia.


Jeanny memegang satu ayat yang kini menjadi hidup:

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21)

Ia tidak hanya mengucapkannya.

Ia menjalaninya—hingga akhir.


Di tengah duka, Ricky tidak berbicara panjang tentang kehilangan.

Ia berbicara tentang iman.

“Apa pun yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, itu baik adanya,” katanya.
“Kita harus belajar mengucap syukur.”

Sebuah pernyataan yang tidak mudah—terlebih dari seseorang yang baru saja kehilangan.

Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Seperti tertulis dalam 1 Tesalonika 5:18:
“Mengucap syukurlah dalam segala hal…”

Dan seperti iman Ayub yang tetap teguh:
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” (Ayub 1:21)


Kisah ini bukan sekadar tentang perpisahan.

Ini tentang cinta yang tetap hidup.
Tentang iman yang tidak runtuh.
Tentang pelayanan yang tidak berhenti… bahkan di detik terakhir.

Jeanny tidak hanya meninggalkan kenangan.

Ia meninggalkan kesaksian.

Dan bagi Ricky—cinta itu tidak berakhir di sini.

Ia hidup… dalam iman, dalam pengharapan, dan dalam keyakinan bahwa suatu hari nanti, mereka akan dipertemukan kembali di Rumah Bapa yang kekal.


Sumber: Kesaksian Abraham Ricky Hosada
Jurnalis: rt/rgy
Editor: Romo Kefas

About The Author

  • Related Posts

    Paradoks Teologi dan Mujizat

    Spread the love

    Spread the loveYogyakarta,22 April 2026— Pdt. Soleman Samuel, seorang pendeta dan pelayan Tuhan yang aktif dalam pelayanan gereja dan misi sosial, menyampaikan refleksi teologis mengenai fenomena yang ia sebut sebagai…

    MEMBERI LEBIH, MENUAI TAK TERDUGA

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfianews.com – Di sebuah pagi yang biasa, seseorang melihat seorang ibu tua berdiri kebingungan di pinggir jalan. Tas belanjaannya terlihat berat, langkahnya tertatih. Banyak orang lewat, melihat… lalu…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Filadelfia News

    “Ia Bersaksi, Lalu Pergi…”: Cinta, Iman, dan Perpisahan yang Menguatkan Abraham Ricky Hosada

    “Ia Bersaksi, Lalu Pergi…”: Cinta, Iman, dan Perpisahan yang Menguatkan Abraham Ricky Hosada

    WARISAN LELUHUR

    WARISAN LELUHUR

    Ketika Orang Paling Jahat Pun Masih Dicari Tuhan

    Ketika Orang Paling Jahat Pun Masih Dicari Tuhan

    PNN 2025 Distribusikan 30 Ribu Alkitab, Prioritaskan Wilayah 3T dan Daerah Terdampak Bencana

    PNN 2025 Distribusikan 30 Ribu Alkitab, Prioritaskan Wilayah 3T dan Daerah Terdampak Bencana

    Pangkostrad Pimpin Sertijab, Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif

    Pangkostrad Pimpin Sertijab, Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif

    Dari Teori ke Praktik, Taruna Akmil Uji Kemampuan di Yonbekang 2 Kostrad

    Dari Teori ke Praktik, Taruna Akmil Uji Kemampuan di Yonbekang 2 Kostrad