FiladelfiaNews.com
Mazmur 39
Ada satu kebenaran yang sering kita hindari, padahal ia terus mendekat setiap hari:
hidup ini tidak panjang.
Kita merencanakan banyak hal, mengejar berbagai impian, membangun masa depan—seolah-olah waktu selalu ada. Namun Mazmur 39 membuka realita yang tidak nyaman, tetapi perlu disadari: manusia hanyalah pendatang, bukan pemilik dunia ini.
“Sebab aku ini pendatang… warga asing…”
(Mazmur 39:13)
Ini bukan bahasa pesimis.
Ini adalah kesadaran rohani yang jujur.
Kita Sibuk, Tapi Tidak Selalu Sadar
Ironinya, manusia modern tidak kekurangan aktivitas—
tetapi sering kehilangan arah.
Kita sibuk:
- mengejar keberhasilan
- membangun citra
- mencari kenyamanan
Namun jarang berhenti untuk bertanya:
apakah semua ini akan bertahan?
Mazmur ini seperti cermin—
menunjukkan bahwa banyak yang kita kejar hari ini,
tidak akan kita bawa selamanya.
Daud: Dari Gelisah Menuju Terarah
Daud tidak menutupi kegelisahannya.
Ia datang kepada Tuhan dengan air mata, bukan dengan pencitraan.
Dan di situlah terjadi perubahan besar.
Ia tidak menemukan jawaban dalam dunia,
tetapi dalam kehadiran Tuhan.
Kefanaan hidup justru membuka matanya:
bahwa hanya Tuhanlah yang layak menjadi pusat pengharapan.
Masalahnya Bukan Dunia—Tapi Tempat Kita Meletakkan Hati
Dunia tidak salah karena ia sementara.
Yang menjadi masalah adalah ketika manusia menjadikannya tujuan utama.
Ketika:
- harta menjadi sandaran
- manusia menjadi harapan
- pencapaian menjadi identitas
maka cepat atau lambat, hati akan kosong.
Karena yang sementara tidak pernah bisa mengisi kebutuhan yang kekal.
Hidup Singkat adalah Undangan, Bukan Ancaman
Banyak orang takut dengan kefanaan.
Namun dalam iman, kefanaan justru adalah undangan untuk hidup dengan benar.
Undangan untuk:
- lebih bijak dalam memilih
- lebih sadar dalam melangkah
- lebih sungguh dalam mengasihi Tuhan
Karena waktu yang terbatas membuat setiap keputusan menjadi berarti.
Jejak yang Tidak Hilang
Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa lama kita hidup,
tetapi dari apa yang kita tinggalkan.
Bukan soal popularitas,
bukan soal kekayaan,
tetapi soal nilai kekekalan.
Apa yang kita lakukan dalam Tuhan tidak akan sia-sia.
Apa yang kita tabur dalam kasih, akan tetap berbicara bahkan setelah kita tiada.
Jangan Hidup Biasa di Dunia yang Sementara
Hidup terlalu singkat untuk dijalani tanpa kesadaran.
Dunia terlalu luas untuk hanya dikejar tanpa tujuan.
Dan Tuhan terlalu besar untuk diabaikan dalam perjalanan hidup kita.
Hari ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak—
bukan untuk menyerah,
tetapi untuk menyelaraskan kembali arah hidup.
Karena pada akhirnya,
yang paling penting bukan berapa lama kita hidup—
tetapi kepada siapa hidup itu diarahkan.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K







